Skrol untuk membaca pos
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250

Ketika Islam Kembali Dianggap Asing

Hasbi Al Baly
Example 468x60
A-AA+A++

Oleh: Hasbi Al Baly

ISLAM dan ajarannya pertama kali datang dalam keadaan dianggap asing dan aneh.  Sesuatu yang tidak biasa bagi masyarakat saat itu, bahkan ditentang oleh banyak orang. Dan Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa suatu saat Islam akan kembali dianggap asing.

Example 300x600

Yang perlu kita pahami, hadits ini jangan sampai membuat kita skeptis, pesimis, apalagi menyerah. Jangan sampai kita berkata, “Kalau memang Islam akan menjadi asing, ya sudah… buat apa kita berbuat banyak?”

Justru sebaliknya.

Hadits tersebut seharusnya menjadi tantangan bagi kita untuk tetap bersemangat menyiarkan kebaikan.

Hari ini kita hidup di tengah derasnya arus informasi. Apa yang sering dilihat, didengar dan dibicarakan berulang-ulang, lama-kelamaan dianggap sebagai sesuatu yang biasa.

Kalau yang setiap hari muncul adalah kemaksiatan, maka kemaksiatan bisa perlahan dianggap biasa.

Orang mabuk dianggap biasa. Musik dan keramaian sampai tengah malam tanpa mengenal waktu dianggap biasa.

Anak-anak terjerumus narkoba dianggap biasa.

Pergaulan bebas dianggap biasa.

Pelacuran dianggap biasa.

Ucapan kasar, kebohongan, perjudian dan berbagai bentuk kemungkaran pun perlahan bisa kehilangan rasa “aneh” di tengah masyarakat.

Sebab sesuatu yang terus-menerus dipertontonkan akan kehilangan rasa asingnya.

Maka jangan heran kalau hari ini hal-hal buruk begitu mudah menjadi viral. Ia terus muncul di layar, dibicarakan, dibagikan, lalu akhirnya menjadi bagian dari percakapan sehari-hari.

Lalu bagaimana dengan kebaikan?

Kalau orang-orang baik memilih diam, orang yang belajar Al-Qur’an memilih diam, orang yang menjaga adab memilih diam, orang yang mengajak kepada shalat memilih diam, orang yang peduli kepada anak-anak dan lingkungan memilih diam…

Lalu siapa yang akan memperkenalkan kebaikan kepada masyarakat?

Jangan sampai kita terlalu sibuk mengatakan “jangan lihat yang buruk”, tetapi kita tidak pernah menghadirkan yang baik.

Jangan sampai kita hanya mengeluh, _“Zaman sekarang sudah rusak,”_ sementara kita sendiri tidak ikut memperbanyak konten, kegiatan, tulisan, kajian, pendidikan dan contoh kehidupan yang menunjukkan bahwa masih ada Islam, masih ada Al-Qur’an, masih ada akhlak, masih ada orang-orang yang mencintai kebaikan.

Karena itu, menyebarkan kebaikan hari ini bukan hanya tentang mencari perhatian.

Kadang kita hanya sedang menjaga agar kebaikan tetap terlihat.

Satu video anak belajar Al-Qur’an.
Satu tulisan tentang adab.
Satu ajakan untuk shalat.
Satu kegiatan sosial.
Satu nasihat yang baik.
Satu kisah tentang orang yang menjaga kejujuran.
Satu kegiatan belajar agama yang kita dokumentasikan.

Mungkin terlihat sederhana.

Tetapi bisa jadi, ketika seseorang sedang dikelilingi begitu banyak hal buruk di media sosialnya, itulah satu-satunya hal baik yang lewat di hadapannya hari itu.

Dan kita tidak pernah tahu, mungkin ia berhenti melihatnya.
Mungkin ia teringat.
Mungkin ia tersentuh.
Mungkin ia mulai belajar.
Mungkin ia kembali kepada Allah.

Maka jangan cepat merasa bahwa apa yang kita lakukan tidak berarti hanya karena tidak langsung terlihat hasilnya.

Tugas kita bukan memastikan semua orang berubah. Tugas kita adalah terus menghadirkan kebaikan dan menyampaikannya dengan cara yang baik.

Jangan biarkan kebaikan tenggelam hanya karena keburukan lebih ramai.

Kalau keburukan berlomba menjadi viral, maka orang-orang yang mencintai kebaikan juga harus berlomba menyebarkan kebaikan.

Bukan untuk mencari popularitas.

Tetapi agar anak-anak kita, keluarga kita dan masyarakat kita tetap tahu bahwa Islam itu ada. Al-Qur’an itu ada. Akhlak itu ada. Kebaikan itu ada.

Dan ketika suatu hari kebaikan dianggap asing, semoga kita termasuk orang-orang yang tetap menjaganya agar tidak benar-benar hilang dari tengah masyarakat.

Sebab mungkin kita tidak mampu mengubah dunia.

Tetapi kita masih bisa memastikan bahwa di lingkungan kita, kebaikan tetap terlihat, terdengar dan diwariskan.(*)

Penulis adalah Pengelola Rumah Tahfidz Cahaya Azami Takengon

Example 300250
Example 120x600

Pos Terkait

Pos Terkait

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250