Skrol untuk membaca pos
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250

Maulid Ala DPD PERWIRA Aceh

Example 468x60
A-AA+A++

Oleh: NA. Riya Ison

BAGI masyarakat negeri Serambi Mekkah, bulan Rabiul Awal atau Bulan Maulid bukanlah sekadar lembaran kalender biasa yang berlalu tanpa makna.

Example 300x600

Ia adalah jangkar spiritual, sebuah ruang jeda kolektif untuk merefleksikan kembali keteladanan Rasulullah SAW.

Tradisi maulid di Aceh terkenal dengan kemeriahan kulturalnya yang dirawat dari generasi ke generasi dengan penuh khidmat. Perayaan pun dilaksanakan genap 100 hari.

Namun, bagaimana jika tradisi spiritual ini dipertemukan langsung dengan pergerakan perempuan wirausaha modern yang sehari-hari bergelut dengan tantangan perekonomian global?

Jawabannya memancar nyata dalam aksi penuh empati dan kepedulian kemanusiaan yang diperlihatkan oleh kaum ibu berlokasi di kawasan Lamgugob Banda Aceh.

Pada sebuah Jumat siang yang cerah di penghujung September 2026, bertempat di kediaman Ibu Herlina di Jalan Prada Utama, suasana tampak menjadi lebih hangat dari biasanya.

Puluhan perempuan tangguh yang berhimpun di bawah payung DPD Perkumpulan Perempuan Wirausaha Indonesia (DPD PERWIRA) Aceh melangkahkan kaki bersama memenuhi ruangan.

Kehadiran para wirausaha perempuan ini digerakkan oleh panggilan jiwa mendalam: Memperingati maulid dengan memanjatkan doa bersama, yang kemudian langsung dirajut dengan aksi kepedulian sosial nyata untuk menjenguk sesama pengurus dan anggota yang sedang diuji oleh cobaan sakit.

Acara yang dipimpin langsung oleh Ketua DPD PERWIRA Aceh, Hj Cut Wardani TR, bersama Sekretaris, Hj Syarifah Muhira, menegaskan identitas asli organisasi ini.

Saat membuka pertemuan dengan keanggunan khas, Cut Wardani tidak hanya menyampaikan informasi internal organisasi atau mengucapkan terima kasih kepada tuan rumah.

Lebih dari itu, momen berharga ini sengaja diubah menjadi ruang refleksi nyata tentang bagaimana ajaran keteladanan Nabi Muhammad SAW dihidupkan Gerakanmelalui penguatan silaturahmi serta memupuk empati interpersonal yang tinggi terhadap sesama anggota.

Fondasi Teologis Kaum “Khadijah”

Tepat pukul 14.30 WIB, gema selawat yang merdu dan lantunan suci ayat Al-Qur’an mengalun khidmat, memenuhi ruangan.

Kehadiran Ustadz Kaisal Munir SAg MAg sebagai penceramah utama memberikan fondasi teologis yang sangat kuat bagi gerakan sosial ekonomi yang sedang dibangun oleh para ibu ini.

Dalam tausiyahnya yang mendalam, Ustadz Kaisal mengingatkan perempuan pelaku usaha Aceh untuk meneladani sifat kedermawanan dan kemandirian ekonomi Ummul Mukminin, Sayyidah Khadijah al-Kubra.

Beliau menekankan bahwa kaum perempuan wirausaha di Aceh memiliki tanggung jawab moral untuk memperkuat jaringan kepedulian sosial di tengah kesibukan menggerakkan roda perekonomian keluarga.

Lebih lanjut, Ustadz Kaisal menyampaikan pandangan bahwa insan manusia diciptakan untuk menyembah Allah SWT dalam arti yang seluas-luasnya.

Menyembah Tuhan tidak melulu soal bersujud di atas sajadah, melainkan juga termanifestasikan melalui jalur berwirausaha secara jujur, merawat tali silaturahmi, dan saling membantu sesama yang sedang berada dalam kesusahan.

Mengutip hadis mulia, sang ustadz mengingatkan bahwa sebaik-baik umat adalah mereka yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an, yang berarti proses berjuang dalam tahap belajar pun sudah dihitung sebagai kebaikan.

Keberkahan umur dan kelapangan rezeki akan mengalir deras bagi mereka yang gemar bersilaturahmi, sebab di dalam setiap perjumpaan dan sapaan tulus antar-sahabat, ada jutaan doa tak terlihat yang saling dipanjatkan.

Naratif sejarah yang diangkat mengenai indahnya jalinan persaudaraan antara kaum Ansar dan kaum Muhajirin pasca-hijrah menjadi klimaks spiritual yang sangat kontekstual bagi para pelaku UMKM.

Beliau mengisahkan bagaimana Sa’ad bin ar-Rabi’ yang dipersaudarakan oleh Rasulullah dengan Abdurrahman bin Auf, dengan tulus menawarkan harta bendanya demi membantu sang saudara baru.

Namun, pemuda Abdurrahman bin Auf, dengan memegang teguh sifat iffah—yaitu menjaga kehormatan diri dari meminta-minta—menolak tawaran harta tersebut secara halus.

Kalimat legendaris dari Abdurrahman, “Cukuplah tunjukkan kepadaku di manakah pasar,” menjadi pemantik kesadaran kolektif siang itu.

Kisah ini memberikan pesan kuat bahwa berwirausaha bukan semata-mata mengumpulkan materi, melainkan jalan martabat untuk menegakkan kemandirian bangsa, sekaligus sarana berbagi kemaslahatan kepada sesama.

Mengunjungi orang sakit sebagai obat 

Lebih dari itu, sang ustaz menekankan bahwa bentuk kepedulian terbaik kepada sahabat yang sedang sakit bukanlah sekadar menenteng buah tangan mewah atau kuliner lezat.

Obat paling mujarab bagi jiwa mereka yang sedang lara adalah kehadiran fisik yang nyata dan perhatian tulus dari seorang sahabat yang sudi meluangkan waktu di tengah kesibukannya.

Ketika seseorang terbaring lemah, rasa kesepian sering kali menjadi beban mental yang memperberat penyakitnya. Di sinilah kehadiran para sahabat hadir sebagai penawar spiritual yang mengembalikan semangat hidup mereka.

Ustadz Kaisal kemudian menutup tausiyahnya dengan memaparkan ajaran mulia tentang keutamaan menghadiri orang yang meninggal dunia serta menghibur keluarga yang ditinggalkan sebagai amalan luhur yang diganjar pahala sebesar dua qiraat oleh Allah SWT. Rasulullah SAW mengumpamakan bahwa satu qiraat saja besarnya setara dengan Gunung Uhud.

Sebuah janji pahala yang luar biasa besar bagi siapa saja yang mau meluangkan waktu demi memberikan penghormatan terakhir serta meringankan beban kesedihan sesamanya.

Ketika jarum jam menunjukkan pukul 16.00 WIB, acara maulid dan silaturahmi formal di kediaman Ibu Herlina resmi ditutup dengan doa bersama. Namun, bagi ibu-ibu tangguh DPD PERWIRA Aceh, agenda utama kemanusiaan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Mereka tidak langsung pulang ke rumah, melainkan bersiap melanjutkan perjalanan dalam bingkai meraih pahala melalui aksi kemanusiaan nyata.

Kali ini, misinya adalah kunjungan sosial ke rumah tiga anggota DPD PERWIRA Aceh yang suaminya sedang terbaring sakit akibat opname.

Komitmen untuk tidak sekadar menjadi organisasi bisnis benar-benar dibuktikan sore itu; mereka adalah sebuah keluarga utuh yang saling merangkul saat ada anggota yang sedang tertimpa musibah.

Oase Kebaikan yang Estafet

Rute kunjungan sosial sore itu dirancang dengan sangat taktis dan estafet karena lokasinya berada dalam satu jalur searah, memperlihatkan efisiensi pergerakan tanpa mengurangi rasa hormat sedikit pun.

Perjalanan kemanusiaan dimulai dengan mendatangi kediaman Ibu Cut Tietin yang berlokasi tak jauh dari tempat acara di kawasan Prada.

Setelah memberikan suntikan semangat dan doa, rombongan pengurus bergerak menuju pemberhentian kedua, yaitu rumah Ibu Nurhayati di kawasan Cot Masjid.

Tanpa menunda waktu, rute kebaikan itu diakhiri di kediaman Ibu Nurhanifah yang terletak di kawasan Pagar Air.

Kehadiran rombongan perempuan wirausaha ini bagaikan oase segar di tengah padang pasir gersang bagi ketiga keluarga anggota yang dikunjungi.

Kehadiran sahabat-sahabat seorganisasi bertindak sebagai pasokan energi spiritual yang luar biasa besar, membasuh rasa lelah yang sempat menggelayuti pundak mereka.

Menariknya, di balik kekentalan misi sosial dan spiritual yang berjalan sore itu, napas wirausaha dan identitas sebagai penggerak UMKM tidak pernah benar-benar tanggal dari diri ibu-ibu DPD PERWIRA Aceh.

Sebelum acara keagamaan dimulai dan sesudah rangkaian doa penutup selesai dibacakan, halaman rumah tempat acara sempat disulap menjadi lapak dagangan jilbab dadakan yang digelar oleh sesama anggota.

Hasilnya pun luar biasa, jilbab-jilbab tersebut laris manis diserbu oleh para peserta yang hadir.

Fenomena ini menunjukkan sebuah realitas indah: bahwa bagi PERWIRA Aceh, semangat silaturahmi berbasis transaksi ekonomi kreatif ala UMKM dapat berjalan beriringan secara harmonis dengan kegiatan ibadah keagamaan.

Kebutuhan akan busana muslimah dipenuhi secara praktis di tempat acara, sekaligus memberikan dampak perputaran ekonomi langsung di tingkat pengusaha kecil.

Proses promosi dan penjualan jilbab dadakan ini dilakukan dengan penuh etika, tanpa sedikit pun mengganggu kekhusyukan jalannya acara maulid utama.

Hal ini membuktikan bahwa ekonomi Islam yang berbasis kekeluargaan memiliki karakter yang inklusif dan humanis.

Manifestasi Cinta yang Nyata

Melalui seluruh rangkaian kegiatan Maulid kali ini, DPD PERWIRA Aceh berhasil membuktikan sebuah tesis penting dalam gerakan sosial modern: bahwa memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW tidak boleh berhenti pada tataran seremonial atau kemeriahan fisik semata.

Esensi sejati dari keteladanan Rasulullah adalah bagaimana kita mampu menghidupkan rasa cinta, kepedulian, dan keadilan sosial kemanusiaan di dunia nyata secara konkret dan konsisten.

Langkah anggun yang diayunkan oleh segenap pengurus dan anggota PERWIRA Aceh sore itu telah memberikan kita semua sebuah pelajaran berharga mengenai arti penting solidaritas tanpa batas dalam kehidupan bermasyarakat.

Ketika aspek spiritual mengaji dikawinkan dengan ketulusan silaturahmi sosial dan kemandirian ekonomi kaum “Khadijah”, maka yang lahir adalah sebuah gerakan perubahan yang menenteramkan jiwa sekaligus mengokohkan sendi-sendi kehidupan masyarakat.

Semoga bara kepedulian yang dinyalakan di Lamgugob ini terus merawat nilai kemanusiaan yang hakiki di bumi Serambi Mekkah.(min)

Example 300250
Example 120x600

Pos Terkait

Pos Terkait

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250