
Surakyat.com | Banda Aceh – Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A) menggelar Serasehan Pemuda bertema “Melanjutkan Perjuangan, Membangun Peradaban” di Sophie’s Sunset Library 2.0, Jalan Krueng Daroy Nomor 3, Kecamatan Banda Raya, Banda Aceh. Kegiatan yang berkolaborasi dengan Sophie’s Sunset Library dan Gerakan Cet Langet tersebut menjadi ruang refleksi 21 tahun perdamaian Aceh sekaligus mendorong pemuda menerjemahkan semangat perjuangan ke dalam kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa.
Kegiatan ini bertepatan dengan 21 tahun penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Helsinki pada 15 Agustus 2005 yang mengakhiri konflik bersenjata di Aceh setelah berlangsung hampir tiga dekade. Perjanjian yang dimediasi mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam proses transformasi Aceh dari daerah konflik menuju daerah damai. Proses tersebut kemudian diperkuat melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.
Peringatan 21 tahun perdamaian Aceh yang berdekatan dengan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi momentum bagi peserta untuk melihat kembali perubahan bentuk perjuangan. Jika pada masa konflik perjuangan berkaitan dengan persoalan keamanan dan politik, generasi muda saat ini menghadapi tantangan dalam bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, lingkungan, dan pembangunan sumber daya manusia.
Serasehan berlangsung dalam format dialog interaktif. Empat narasumber dari latar belakang berbeda menjadi pemantik diskusi, masing-masing selama 10 menit, sebelum dilanjutkan dengan dialog bersama peserta selama 50 menit.
Nur Raihan Lubis, jurnalis dan Co-Founder Sophie’s Sunset Library yang pernah terlibat dalam dokumentasi pembangunan Aceh pascatsunami, membahas pentingnya merekam dan memaknai sejarah. Muhammad Furqan, notaris sekaligus penggerak koperasi dan UMKM, mengangkat kemandirian ekonomi sebagai salah satu bentuk perjuangan generasi masa kini. Sementara itu, Edi Fadhil, inisiator Gerakan Cet Langet Rumoh, berbagi pengalaman mengenai gerakan filantropi berbasis komunitas. Founder GEN-A Noraliyatun Jannah turut membagikan pengalaman membangun gerakan kepemudaan tersebut sejak 2017.
Dalam sesi dialog, peserta membahas bagaimana nilai perjuangan generasi terdahulu dapat diterjemahkan ke dalam tindakan yang relevan dengan persoalan masyarakat saat ini. Pertanyaan yang muncul antara lain berkaitan dengan bentuk kontribusi pemuda, keberlanjutan gerakan sosial, serta peran generasi muda dalam menjaga perdamaian dan pembangunan Aceh.
Edi Fadhil mendorong peserta untuk memulai kontribusi dari hal-hal sederhana dan tidak menunggu kemampuan besar untuk membantu orang lain. Ia mencontohkan gerakan yang dijalankannya melalui Gerakan Cet Langet dengan mengajak masyarakat bergotong royong membantu anak yang membutuhkan dukungan pendidikan.
“Membantu seseorang itu tidak perlu ribet. Kalau ada anak yang putus sekolah, saya tawarkan ke teman-teman yang menurut saya mampu, cukup 150 sampai 170 ribu rupiah sebulan. Saya yang akan bertanggung jawab melaporkan perkembangan rapornya sampai surat terima kasih dari anak itu sendiri,” ujar Edi.
Menurut Edi, kontribusi kecil yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan dampak bagi orang lain. Praktik tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kepedulian sosial dapat dilakukan melalui cara yang sederhana dan berkelanjutan.
Salah satu peserta binaan GEN-A, Nuraini, mengatakan kegiatan tersebut memberinya perspektif baru dalam memaknai perjuangan generasi muda.
“Ilmu yang saya dapat sangat bermanfaat. Dengan mengenal sejarah perjuangan dulu, saya jadi punya bekal untuk bertahan dan terus berkembang di masa mendatang,” kata Nuraini.
Serasehan tersebut juga menyoroti pentingnya partisipasi masyarakat dalam menjaga keberlanjutan perdamaian Aceh. Setelah konflik berakhir, tantangan pembangunan tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat dan komunitas di tingkat akar rumput.
Pengalaman gerakan filantropi Gerakan Cet Langet dan penguatan koperasi serta UMKM yang dibagikan dalam forum menjadi contoh bahwa semangat gotong royong dapat diterapkan dalam bentuk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
GEN-A menyatakan akan melanjutkan kegiatan serupa sebagai bagian dari upaya memperkuat pemahaman sejarah dan nilai perjuangan di kalangan pemuda. Ruang dialog juga diharapkan dapat diperluas dengan melibatkan lebih banyak komunitas dan organisasi kepemudaan di Aceh.
Bagi generasi yang lahir setelah konflik berakhir, menjaga perdamaian tidak lagi berarti mengangkat senjata. Perjuangan dapat diwujudkan melalui pendidikan, kepedulian sosial, penguatan ekonomi masyarakat, serta berbagai kontribusi yang memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.(min)



















Tidak ada Respon