
Oleh: Hasbi Al Baly
DALAM beberapa waktu terakhir, kita di Aceh Tengah disuguhkan dengan berbagai berita yang cukup mengguncang nurani kita. Bulan Mei 2026 lalu, kita dihebohkan dengan berita tentang prostitusi atau pelacuran di kalangan pelajar.
Bagi saya, persoalan seperti ini bukanlah sesuatu yang benar-benar baru. Kebetulan, kami mengenal beberapa aktivis anak dan perempuan yang selama ini sering berbagi cerita tentang berbagai persoalan yang mereka temui di lapangan, termasuk adanya anak-anak usia SD, SMP hingga SMA yang mengalami kehamilan di luar nikah.
Beberapa hari lalu, kita kembali dikagetkan dengan perkelahian antarpelajar—atau lebih tepatnya penganiayaan. Dan ini pun bukan pertama kalinya persoalan semacam ini terjadi di Tanoh Gayo.
Tidak lama berselang, kita dibuat prihatin dengan sikap seorang pelajar yang begitu berani dan tidak menunjukkan rasa hormat kepada orang tua. Kemarin, saya mendapatkan telepon dari seorang guru di sebuah sekolah. Beliau berkonsultasi sekaligus ingin membeli buku panduan membaca Al-Qur’an yang kami tulis, karena ternyata masih banyak siswanya yang belum mampu membaca Al-Qur’an.
Dan bagi saya pribadi, ada satu lagi hal yang cukup memprihatinkan. Ketika berada di masjid, terutama pada hari Jumat, kita sering melihat anak-anak, mulai dari usia SD bahkan sampai SMA, yang begitu ramai, bercanda, bermain dan berbicara seolah-olah belum memahami adab ketika berada di rumah Allah.
Lalu muncul sebuah pertanyaan:
Apakah semua ini hanya kebetulan?
Ataukah yang sedang kita lihat hanyalah puncak dari sebuah gunung es masalah pendidikan kita?
Sebab apa yang tampak di permukaan mungkin hanya sebagian kecil dari persoalan yang sebenarnya.
Di bawah permukaan, mungkin ada persoalan yang jauh lebih besar.
Bagaimana pendidikan agama di rumah?
Bagaimana perhatian orang tua terhadap pendidikan anak?
Bagaimana pendidikan akhlak di sekolah?
Seberapa dekat anak-anak kita dengan Al-Qur’an?
Siapa yang mengajarkan mereka tentang adab, rasa malu, tanggung jawab dan batasan dalam pergaulan?
Dan yang paling penting:
Apakah pendidikan kita selama ini hanya berusaha membuat anak menjadi pintar, atau juga berusaha membuat mereka menjadi manusia yang beriman dan berakhlak?
Pendidikan dalam Islam
Allah adalah Pencipta manusia. Dia yang paling mengetahui hakikat manusia, kelemahan dan kebutuhannya, termasuk bagaimana manusia seharusnya dibentuk agar menjadi makhluk yang beriman, berilmu dan beradab.
Al-Qur’an memberikan gambaran yang sangat indah tentang misi pendidikan melalui doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
Allah berfirman:
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Ya Tuhan kami, utuslah di tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, serta menyucikan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.”
(QS. Al-Baqarah: 129)
Perhatikan ayat tersebut.
Di dalamnya terdapat gambaran misi pendidikan yang sangat mendalam:
Tilawah — mengenalkan dan membacakan ayat-ayat Allah.
Ta’lim — mengajarkan ilmu dan Kitab.
Hikmah — membentuk pemahaman dan kebijaksanaan.
Tazkiyah — menyucikan jiwa dan membentuk manusia.
Artinya, pendidikan dalam Islam tidak berhenti pada membuat seseorang menjadi pintar.
Pendidikan juga harus membuat seseorang mengenal Allah, memahami agama, memiliki adab, mampu mengendalikan dirinya dan memiliki akhlak yang baik. Menghilangkan unsur-unsur tersebut sama saja dengan kita sedang membangun manusia tetapi tanpa ruh; atau membangun rumah tetapi tanpa fondasi.
Maka mungkin sudah waktunya kita tidak hanya bertanya:
“Mengapa anak-anak kita semakin tidak berakhlak, semakin berani, dan semakin tidak takut dosa?”
Tetapi juga bertanya:
“Apa yang selama ini kita ajarkan kepada mereka?”
Jangan sampai kita sibuk memperbaiki puncak gunung es, tetapi tidak pernah berusaha menyelami apa yang ada di bawah permukaannya. Karena masalah pendidikan bukan hanya masalah sekolah.
Ini adalah masalah keluarga, guru, masyarakat, lingkungan dan seluruh kita yang ikut membentuk kehidupan anak-anak hari ini.
Jika kita ingin melihat Aceh Tengah yang lebih baik di masa depan, maka salah satu investasi terbesar yang harus kita lakukan adalah:
Memperbaiki pendidikan anak-anak kita.
Bukan hanya agar mereka cerdas secara akademik, tetapi agar mereka menjadi generasi yang beriman, berilmu, beradab, berakhlak dan dekat dengan Al-Qur’an.
Karena anak-anak hari ini adalah wajah Aceh Tengah di masa yang akan datang.
Dan mungkin, fenomena yang sedang kita lihat hari ini adalah sebuah peringatan agar kita segera berbenah.
Untuk Renungan Kita Bersama
Izinkan saya menutup tulisan ini dengan sebuah syair dari Ahmad Syauqi, seorang penyair terkenal dari Mesir:
وَإِنَّمَا الْأُمَمُ الْأَخْلَاقُ مَا بَقِيَتْ
فَإِنْ هُمُ ذَهَبَتْ أَخْلَاقُهُمْ ذَهَبُوا
“Sesungguhnya suatu umat akan tetap ada selama akhlaknya masih terjaga. Jika akhlak mereka telah hilang, maka mereka pun akan kehilangan keberadaannya.”
Maka persoalan pendidikan hari ini bukan hanya tentang berapa banyak anak yang mendapatkan nilai tinggi.
Bukan pula hanya tentang berapa banyak anak yang lulus sekolah.
Tetapi lebih jauh dari itu: Anak seperti apa yang sedang kita bentuk?
Karena pada akhirnya, yang akan menentukan masa depan Aceh Tengah bukan hanya kecerdasan generasinya, tetapi juga iman, ilmu, adab dan akhlaknya.(*)
Penulis adalah Pengelola Rumah Tahfidz Cahaya Azami Takengon



















Tidak ada Respon