
Catatan Perjalanan Drs. Aidi Kamal, Kecamatan MM (Ketua Umum DMDI Aceh)
DUNIA Melayu Dunia Islam (DMDI) Aceh kembali menapakkan jejak kemanusiaannya. Setelah menyelesaikan misi kemanusiaan di Beutong Ateuh, Kabupaten Nagan Raya, tim DMDI Aceh kembali menyusuri wilayah pesisir Aceh, kali ini menuju Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, untuk menyampaikan amanah kemanusiaan yang dititipkan oleh OPS Ihsan Malaysia.
Pagi itu, Minggu, tanggal 13 September 2026, tim DMDI Aceh yang dikoordinasikan oleh Drs Aidi Kamal MM, didampingi Dr Ir H Basri A Bakar MSi dan NA Riya Ison, bergerak menuju Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen. Bantuan berupa paket sembako—beras, gula, minyak goreng, dan telur—disalurkan kepada masyarakat yang terdampak bencana banjir bandang. Bantuan tersebut disampaikan kepada warga di Alue Ceurape dan Gampong Alue Kuta, Kecamatan Jangka.
Mungkin jumlahnya tidak seberapa dibandingkan banyaknya kebutuhan masyarakat. Namun, dalam ajaran Islam, nilai sebuah pemberian tidak semata-mata diukur dari besar kecilnya materi, melainkan dari keikhlasan, kepedulian, dan amanah yang menyertainya. Setetes kepedulian dapat menjadi penyejuk bagi hati yang sedang diuji.
Sesampainya di lokasi, suasana masih tampak sepi. Namun, tidak lama kemudian seseorang datang menyambut dan menyampaikan bahwa rombongan Muspika Kecamatan Jangka sedang menunggu tim DMDI di Meunasah Kuala Ceurape.
Hari itu ternyata bertepatan dengan kenduri Maulid Nabi Muhammad SAW yang dipusatkan di meunasah tersebut. Kami pun mendapat kehormatan untuk ikut membaur bersama masyarakat dan para tokoh setempat dalam suasana penuh ukhuwah dan kekeluargaan.
Kenduri Maulid bukan sekadar tradisi. Di Aceh, acara maulid menjadi salah satu ruang untuk menghidupkan kembali kecintaan kepada Rasulullah SAW, mempererat silaturahmi, serta menumbuhkan semangat berbagi dan saling peduli.
Setelah menikmati hidangan kenduri, tibalah waktu salat Zuhur. Camat Jangka, Muliadi, yang telah lama mengetahui bahwa Sekretaris DMDI Aceh sekaligus Sekretaris Jenderal Forsimas, Dr Ir H Basri A Bakar MSi merupakan seorang qari dengan suara yang merdu, langsung memintanya mengumandangkan azan.
Suara azan yang syahdu pun menggema dari Meunasah Kuala Ceurape. Sejenak suasana menjadi hening. Panggilan menuju Allah itu seakan mengingatkan kami bahwa perjalanan kemanusiaan, silaturahmi, dan perjuangan sosial pada hakikatnya harus bermuara kepada pengabdian kepada-Nya.
Setelah seluruh rangkaian Maulid selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pembagian paket sembako kepada warga yang tercatat sebagai korban terdampak banjir bandang tahun lalu.
Senyum dan ucapan terima kasih mengiringi penyerahan bantuan. Bahkan, sebagian ibu-ibu penerima bantuan tidak mampu menahan air mata. Bukan karena nilai materi yang diterima, tetapi karena merasa masih ada saudara-saudara yang peduli dan datang membawa perhatian di tengah kesulitan.
Di situlah kami kembali belajar bahwa kemanusiaan tidak mengenal batas. Jarak boleh memisahkan, tetapi kepedulian dapat mempertemukan hati. Tidak jauh dari lokasi penyaluran bantuan, kami mendapat kabar bahwa terdapat makam seorang ulama besar yang namanya sangat masyhur dalam sejarah Aceh: Habib Bugak.
Niat pun tumbuh untuk menziarahi makam beliau, seorang ulama yang meninggalkan warisan luar biasa bagi generasi Aceh hingga hari ini.
Rombongan kami didampingi oleh Camat Jangka, Muliadi beserta istri, Danramil Jangka Letda Inf Verryanto, Kapolsek Jangka Ipda Fidhal Akhyar Febrinar, serta sejumlah tokoh dan masyarakat lainnya.
Memasuki kompleks makam, kami merasakan suasana yang berbeda. Gerbang makam berdiri kokoh, menjadi penanda bahwa di tempat tersebut bersemayam seorang ulama yang perjalanan hidupnya telah meninggalkan jejak panjang dalam sejarah umat Islam Aceh.
Di sekitar makam tampak beberapa peziarah sedang khusyuk berdoa. Setelah terlebih dahulu minta izin kepada penjaga makam, Aidi Kamal memimpin doa yang kemudian diikuti oleh rombongan. Kepala tertunduk, hati mencoba mengingat kembali kisah perjuangan seorang ulama Aceh yang berabad-abad lalu menempuh perjalanan jauh menuju Tanah Suci demi menghadirkan kemaslahatan bagi generasi sesudahnya.
Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi, yang lebih dikenal dalam sejarah masyarakat Aceh sebagai Habib Bugak, sebagai sosok yang memiliki kepedulian besar terhadap masyarakat Aceh dan jamaah haji asal Aceh.
Pada awal abad ke-19, beliau mewakafkan tanah dan bangunan di sekitar Masjidil Haram untuk kepentingan jamaah haji asal Aceh. Ikrar wakaf tersebut kemudian menjadi salah satu tonggak penting yang melahirkan apa yang dikenal masyarakat Aceh sebagai Baitul Asyi.
Lebih dari dua abad kemudian, wakaf Habib Bugak Al-Asyi tersebut berkembang menjadi aset produktif yang manfaatnya terus dirasakan oleh masyarakat Aceh, khususnya jamaah haji asal Aceh yang menunaikan ibadah di Tanah Suci.
Habib Bugak telah mengajarkan kepada kita bahwa harta yang paling bernilai bukanlah harta yang sekadar disimpan, melainkan harta yang diubah menjadi amal yang manfaatnya terus dirasakan oleh umat hingga sekarang.
Jasad beliau memang telah lama wafat, kembali kepada sang Khalid, kita semua juga akan mengikutinya, namun, amal jariyahnya seakan masih hidup, mengalir dari generasi ke generasi, menyertai perjalanan jamaah Aceh menuju Baitullah.
Di hadapan makam Habib Bugak, kami merenungkan satu pertanyaan sederhana: Apa yang akan kita tinggalkan setelah kita tiada? Jabatan akan berakhir. Harta akan berpindah tangan. Rumah dan tanah akan ditinggalkan. Nama pun perlahan akan dilupakan orang. Tetapi amal saleh yang ikhlas akan tetap menjadi cahaya.
Habib Bugak telah membuktikannya. Lebih dari dua abad telah berlalu, tetapi namanya masih disebut dengan penuh penghormatan. Wakafnya masih memberi manfaat. Kebaikannya masih dirasakan. Dan kisahnya masih menjadi pelajaran bagi generasi Aceh.
DMDI Aceh yang hari ini bergerak menyampaikan bantuan kemanusiaan mungkin hanya mampu memberikan sebahagian kecil dari apa yang dibutuhkan masyarakat. Namun, dari perjalanan ini kami belajar bahwa setiap kebaikan, sekecil apa pun, jangan pernah diremehkan.
Boleh jadi sebuah paket sembako hanya memenuhi kebutuhan beberapa hari. Tetapi sebuah wakaf yang dikelola dengan amanah dapat menjadi sumber manfaat hingga ratusan tahun.
Ziarah kami pada hari itu berakhir menjelang senja. Namun, sebelum meninggalkan kompleks makam, kami mendapat sebuah amanah sekaligus undangan. Di bawah naungan bangunan makam berbentuk limas yang sarat dengan nilai sejarah, salah seorang keturunan beliau, Habib Jamaluddin, mewakili keluarga besar Habib, mengajak rombongan DMDI Aceh dan seluruh peziarah saat itu untuk menghadiri Haul ke-217 Habib Bugak, insya Allah akan dilaksanakan pada tanggal 27 September 2026.
Semoga maklumat dan undangan mulia ini dapat disebarluaskan kepada seluruh masyarakat Aceh, baik yang berada di Aceh maupun di perantauan. Semoga Haul Akbar Habib Bugak berjalan dengan lancar dan penuh keberkahan.
Dari Jangka, Bireuen, kami belajar kembali: manusia boleh pergi, tetapi kebaikan yang diwakafkan karena Allah dapat terus hidup, bahkan melampaui zaman….
Wallahu a’lam bish-shawab…….



















Tidak ada Respon