Skrol untuk membaca pos
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250

Misi Kemanusiaan DMDI: Membelah Jalur Ekstrem Singgah Mata Menuju Beutong Ateuh

9 dilihat
Dari kiri ke kanan: Radian, Aidi Kamal, dan NA Riya Ison Saat Tiba di Pinggir Sungai Beutong Ateuh, Nagan Raya.
Example 468x60
A-AA+A++

MINGGU , 6 September 2026, menjadi sebuah perjalanan panjang yang tak sekadar menguji ketahanan fisik, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang begitu indah dan penuh makna. Rombongan misi kemanusiaan dari organisasi Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) beranggotakan Aidi Kamal, Radian dan NA Ria Ison bergerak membelah keheningan belantara Nagan Raya, menuju Blang Puuk, sebuah desa yang berada di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang.

Untuk menggapai kawasan ini, rute jalan yang kami tempuh bukanlah perjalanan biasa. Di balik setiap tikungan, tanjakan, dan turunan, tersimpan cerita tentang alam, kehidupan, sekaligus perjuangan masyarakat yang tinggal puluhan bahkan ratusan tahun di balik pegunungan itu

Example 300x600

Demi berbagi sedikit kebahagiaan dan kepedulian kepada saudara-saudara kita di sana, kami harus melewati satu-satunya lintasan pegunungan dari Keudee Seumot yang paling menantang sekaligus menakjubkan di Aceh: Puncak Singgah Mata berada pada ketinggian sekitar 2.214 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Kawasan Singgah Mata menghadirkan panorama yang luar biasa. Udara dingin menyapa dengan lembut, angin pegunungan berembus kencang, sementara kabut dan awan seakan berada begitu dekat dengan kami.

Sesaat kami berhenti, memandang ke kejauhan. Terhampar bentang alam pegunungan yang hijau dan megah. Lembah-lembah terlihat dari ketinggian, diselimuti kabut tipis yang bergerak perlahan.

Di tempat seperti ini, kita kembali disadarkan betapa kecilnya manusia di hadapan kebesaran ciptaan Allah SWT. Perjalanan yang menguji, alam yang mempersona perjalanan dari kawasan Krueng Isep menuju Singgah Mata benar-benar memberikan pengalaman tersendiri. Jalan terus menanjak, berkelok dan seolah tidak mengenal kata datar.

Mesin Toyota Innova Reborn yang kami tumpangi harus bekerja keras menaklukkan tanjakan demi tanjakan. Namun, rasa lelah itu terbayar oleh keindahan alam yang tersaji sepanjang perjalanan.

Ketika roda kendaraan melewati titik tertinggi Singgah Mata dan mulai mengarah turun menuju lembah Beutong Ateuh, suasana berubah. Jalanan berkelok tajam dan menurun curam, membawa kami perlahan memasuki kawasan yang terasa begitu jauh dari hiruk-pikuk kehidupan perkotaan.

Perjalanan ini mengajarkan satu hal: jalan menuju sebuah tujuan yang berarti memang terkadang tidak mudah, tetapi setiap kesulitan akan terasa ringan ketika di ujung perjalanan ada niat tulus untuk membantu sesama.

Menariknya, kondisi jalan yang selama ini dikenal sebagai salah satu jalur ekstrem di pedalaman Aceh kini secara umum sudah cukup baik. Di beberapa titik menjelang puncak, kami bahkan menemukan hamparan aspal baru yang masih menyisakan aroma khas pekerjaan jalan. Para pekerja tampak tekun menyelesaikan pekerjaannya di tengah udara pegunungan yang dingin.

Tentu, akses jalan yang semakin baik merupakan kabar menggembirakan bagi masyarakat. Jalan adalah urat nadi yang menghubungkan mereka dengan dunia luar, membuka akses pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan berbagai kebutuhan lainnya.
Namun, di balik kemajuan itu, ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan: alam juga membutuhkan perhatian dan perlindungan.

Luka di Tengah Keindahan

Di sepanjang perjalanan, kami menyaksikan keindahan hutan tropis yang masih membentang luas. Tebing-tebing menjulang, pepohonan tumbuh rapat, dan udara terasa begitu segar. Tetapi di beberapa titik, keindahan itu memperlihatkan luka.
Tanah merah terbuka terlihat di sisi jalan. Pepohonan yang sebelumnya menjadi bagian dari benteng alam telah tumbang. Beberapa alat berat tampak berada di lokasi pekerjaan.

Pemandangan tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan harus berjalan seiring dengan kepedulian terhadap lingkungan. Kita membutuhkan jalan, tetapi kita juga membutuhkan hutan. Kita membutuhkan pembangunan, tetapi kita juga membutuhkan sungai yang jernih, udara yang bersih, tanah yang kokoh, dan pegunungan yang tetap hijau. Jangan sampai pembangunan hari ini menjadi penyesalan bagi generasi yang akan datang.

Hutan bukan sekadar kumpulan pohon. Ia adalah rumah bagi berbagai kehidupan, penjaga sumber air, pelindung tanah dari longsor dan erosi, sekaligus bagian penting dari keseimbangan ekosistem.

Karena itu, keindahan Singgah Mata dan kawasan Beutong Ateuh bukan hanya untuk dikagumi, tetapi juga untuk dijaga bersama.

Menembus Gunung, Menemukan Makna Kemanusiaan

Setelah perjalanan panjang, akhirnya kami tiba di tengah masyarakat. Bantuan yang kami bawa mungkin tidak seberapa dibandingkan luasnya kebutuhan mereka. Namun, senyum, sambutan, dan rasa syukur masyarakat menjadi energi yang tidak ternilai.

Di tempat yang jauh dari gemerlap kota, kami kembali menemukan makna sederhana tentang kemanusiaan: bahwa kepedulian tidak mengenal jarak, gunung, lembah, maupun batas wilayah.

Perjalanan ini juga mempertemukan dua hal yang semestinya selalu berjalan bersama: kemanusiaan dan kepedulian terhadap alam. Menolong manusia berarti pula menjaga lingkungan tempat mereka hidup. Melestarikan alam berarti menjaga kehidupan masyarakat hari ini dan generasi yang akan datang.

Ketika senja mulai turun dan kami berpamitan untuk kembali, kabut perlahan menyelimuti pegunungan. Rasa lelah yang sejak pagi menemani perjalanan seakan hilang, berganti dengan keharuan dan rasa syukur.

Dari balik gunung itu, kami membawa pulang bukan hanya kenangan tentang sebuah misi kemanusiaan, tetapi juga sebuah pesan penting: Jangan hanya datang untuk melihat keindahan alam. Mari kita ikut menjaganya.

Sebab, mungkin suatu hari nanti anak-anak kita akan melewati jalan yang sama, memandang Puncak Singgah Mata dari balik jendela kendaraan, menghirup udara pegunungan yang sejuk, dan bertanya:

“Apakah keindahan ini masih ada?”
Semoga jawabannya tetap ada.

Semoga hutan tetap hijau, sungai tetap mengalir jernih, gunung tetap kokoh, dan masyarakat di balik pegunungan tetap hidup dalam kesejahteraan dan kerukunan. Dan dari perjalanan kemanusiaan ini, satu pesan sederhana layak kita titipkan kepada kita semua: Rawatlah alam sebagaimana kita merawat kehidupan. Karena menjaga alam hari ini berarti menjaga kehidupan untuk hari esok…..

Example 300250
Example 120x600

Pos Terkait

Pos Terkait

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250