
Surakyat.com | Banda Aceh – Seulawah Team Universitas Syiah Kuala (USK) berhasil membawa nama Aceh ke panggung kompetisi teknologi pesawat tanpa awak tingkat nasional setelah menyelesaikan seluruh misi pada Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2026 di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur (Kaltim).
Tim USK yang turun pada Divisi Fixed-Wing tidak hanya mampu menuntaskan seluruh rangkaian misi penerbangan. Tetapi juga meraih penghargaan Best Team pada kompetisi yang berlangsung 21-26 September 2026 tersebut. KRTI 2026 diikuti 94 tim dari 43 perguruan tinggi di Indonesia. Kompetisi nasional itu mempertandingkan lima divisi, yakni: Fixed-Wing, Long Endurance Low Altitude (LELA), Racing Plane, Technology Development, Vertical Take-Off and Landing (VTOL)
Keberhasilan Seulawah Team menyelesaikan seluruh misi menunjukkan kemampuan mahasiswa USK dalam menggabungkan aspek teknis, strategi penerbangan, ketelitian, dan kerja sama tim selama kompetisi berlangsung. Seulawah Team dipimpin Kevin Adiatma sebagai ketua.
Ia bersama Dzawil Fahmi Sofyanda, Elsa Yulia Putri, Suhra Wardiah, Feri Mauliandi Saputra, Naufal Shaumi, dan Rauhul Haq memperkuat tim dalam kompetisi tersebut. Para anggota tim berasal dari sejumlah program studi di USK, yaitu Teknik Mesin, Teknik Kimia, Teknik Geofisika, dan Teknik Komputer.
Perbedaan latar belakang keilmuan tersebut menjadi modal dalam menangani berbagai kebutuhan pengembangan dan pengoperasian Unmanned Aerial Vehicle (UAV).
Dalam persiapan menghadapi kompetisi, Seulawah Team mendapat arahan dan pendampingan dari Prof Dr Ir Mohd Iqbal, MT. Tim dituntut mampu memadukan kemampuan desain dan manufaktur pesawat, sistem kendali, elektronika, pemrograman, hingga pengujian, serta pengoperasian UAV.
KRTI tidak hanya menjadi ajang untuk menguji kemampuan mahasiswa dalam menerbangkan pesawat nirawak. Kompetisi ini juga menjadi wadah pengembangan teknologi UAV melalui berbagai tantangan yang mengharuskan peserta merancang, membangun, menguji, dan mengoperasikan sistem secara terintegrasi.
Pada Divisi Fixed-Wing, peserta menghadapi sejumlah misi yang berkaitan dengan pemetaan dan pemantauan wilayah, deteksi target menggunakan teknologi Edge AI, hingga dropping muatan secara presisi. Misi tersebut dirancang sejalan dengan kebutuhan pemanfaatan teknologi untuk mendukung konsep kota cerdas di IKN.
Bagi Seulawah Team, pengalaman bertanding di IKN juga menjadi kesempatan untuk menguji teknologi yang dikembangkan dalam kondisi kompetisi tingkat nasional. Penyelesaian seluruh misi menjadi salah satu indikator kemampuan tim dalam menghadapi tantangan teknis dan operasional di lapangan.
Pada akhir kompetisi, penghargaan Best Team Divisi Fixed-Wing diberikan kepada Universitas Syiah Kuala melalui Seulawah Team.
Sementara juara pertama divisi tersebut diraih Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), disusul Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Prestasi tersebut sekaligus menambah catatan capaian mahasiswa USK di bidang teknologi robotika dan pesawat nirawak.
Pengalaman dari KRTI 2026 diharapkan menjadi modal bagi Seulawah Team untuk terus menyempurnakan teknologi UAV dan meningkatkan kemampuan mahasiswa.
Teknologi yang dikembangkan juga memiliki peluang untuk dimanfaatkan di luar arena kompetisi, antara lain: Untuk kebutuhan pemetaan, Pemantauan lingkungan, Mitigasi bencana, Logistik, dan Kebutuhan lain yang membutuhkan teknologi pesawat tanpa awak. Dengan capaian tersebut, Seulawah Team tidak hanya membawa nama USK, tetapi juga memperkuat representasi Aceh dalam pengembangan teknologi UAV di tingkat nasional.(min)














Tidak ada Respon