
Surakyat.com | Banda Aceh – Meningkatnya konsumsi minuman dan makanan tinggi gula pada anak dan remaja menjadi salah satu tantangan kesehatan yang perlu mendapat perhatian keluarga. Sayangnya, masih banyak orang tua belum memahami cara membaca Informasi Nilai Gizi (ING) pada kemasan pangan sehingga tanpa disadari anak mengonsumsi gula melebihi kebutuhan hariannya. Menjawab tantangan tersebut, Akademi Analis Farmasi dan Makanan (AKAFARMA) Banda Aceh, Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A), dan Tim Penggerak PKK Gampong Geuceu Iniem menyelenggarakan pelatihan membaca nilai gizi serta pengolahan pangan fungsional berbasis tanaman herbal Nusantara di Gampong Geuceu Iniem, Kecamatan Banda Raya, Banda Aceh, Rabu (8/7/2026).
Kegiatan yang diikuti 25 anggota PKK ini dibuka secara resmi oleh Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Banda Raya, Yonanda ST. Menurutnya, keluarga memiliki peran utama dalam membentuk kebiasaan makan anak sejak dini sehingga para orangtua perlu memiliki kemampuan membaca label pangan dan memahami kandungan gula pada makanan maupun minuman kemasan sebagai langkah sederhana untuk mencegah diabetes.
Pencegahan diabetes perlu dimulai sejak usia dini karena pola konsumsi anak dan remaja saat ini semakin didominasi makanan serta minuman tinggi gula. Federasi Diabetes Internasional (IDF) memperkirakan jumlah penyandang diabetes di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya membangun kebiasaan membaca label pangan, mengendalikan konsumsi gula, dan memilih pangan yang lebih sehat sebagai bagian dari upaya pencegahan penyakit tidak menular.
Pelatihan diawali dengan sesi interaktif mengenai diabetes yang dipandu oleh Apt Nurfaizah SFarm. Melalui permainan edukatif, peserta diajak mengenali faktor risiko, gejala, serta langkah-langkah pencegahan diabetes sejak usia dini. Pendekatan yang menyenangkan membuat peserta lebih aktif berdiskusi sekaligus memahami materi secara lebih mudah.
Pada sesi utama, dr Imam Maulana, Edukator GEN-A sekaligus Duta Pemuda Indonesia Provinsi Aceh 2025, melatih peserta menghitung konsumsi gula harian berdasarkan informasi yang tercantum pada label kemasan pangan. Peserta mempraktikkan cara membaca Informasi Nilai Gizi (ING), menghitung kandungan gula per sajian, kemudian mengonversinya dengan jumlah sajian yang terdapat dalam satu kemasan.
Menurut Imam, banyak masyarakat hanya memperhatikan angka kandungan gula per sajian, tanpa menyadari bahwa satu kemasan sering kali terdiri atas lebih dari satu sajian.
“Tidak sedikit minuman kemasan mencantumkan kandungan gula 22 gram per sajian, padahal satu botol berisi 1,5 sajian. Artinya, ketika satu botol dihabiskan sekaligus, seseorang mengonsumsi sekitar 33 gram gula. Jumlah tersebut sudah melebihi batas konsumsi harian anak usia sekolah. Melalui pelatihan ini, kami ingin masyarakat mampu menghitung sendiri konsumsi gula keluarga agar lebih bijak memilih makanan dan minuman,” ujarnya.
Dalam pelatihan tersebut, peserta juga diperkenalkan dengan batas konsumsi gula harian berdasarkan kelompok usia, yaitu maksimal 19 gram per hari untuk anak usia 2–6 tahun, 24 gram untuk anak usia 7–10 tahun, dan sekitar 30 gram untuk orang dewasa. Melalui simulasi perhitungan menggunakan berbagai produk minuman kemasan yang umum dikonsumsi anak dan remaja, peserta dapat melihat secara langsung bahwa satu botol minuman saja dapat memenuhi bahkan melampaui batas konsumsi gula harian yang dianjurkan.
Selain edukasi membaca nilai gizi, peserta juga memperoleh pelatihan pengolahan pangan fungsional berbasis tanaman herbal Nusantara dan pangan lokal yang dipandu oleh Apt Nurmalia Zakaria MFarm, dosen sekaligus praktisi obat tradisional AKAFARMA Banda Aceh.
Indonesia memiliki ribuan tanaman herbal yang berpotensi dikembangkan menjadi pangan fungsional. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tanaman seperti daun kelor, jahe, kunyit, serai, rosela, dan bunga telang mengandung senyawa bioaktif yang berperan sebagai antioksidan serta membantu menjaga metabolisme tubuh. Dengan pengolahan sederhana, komoditas lokal tersebut dapat menjadi alternatif pangan sehat sekaligus membuka peluang usaha berbasis rumah tangga.
“Tanaman herbal tidak hanya identik dengan jamu tradisional. Dengan inovasi yang sederhana, bahan-bahan lokal dapat diolah menjadi pangan fungsional yang sehat, disukai masyarakat, dan memiliki nilai ekonomi. Kami berharap masyarakat mampu memanfaatkan potensi lokal ini untuk meningkatkan kesehatan keluarga sekaligus membuka peluang usaha,” jelas Nurmalia.
Pada sesi praktik, peserta secara langsung mengolah beberapa produk pangan fungsional, antara lain cookies daun kelor, mi ubi ungu, snack bar kelor, dan gummy jelly jahe-serai. Seluruh proses dilakukan mulai dari pemilihan bahan, formulasi, hingga menghasilkan produk siap konsumsi yang mudah diterapkan kembali di rumah.
Ketua Tim Penggerak PKK Gampong Geuceu Iniem, Ir Herlina, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, pelatihan yang memadukan edukasi kesehatan dengan praktik pengolahan pangan memberikan manfaat nyata karena peserta memperoleh pengetahuan sekaligus keterampilan yang dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami berharap ilmu yang diperoleh hari ini tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi diterapkan di rumah masing-masing sehingga keluarga menjadi lebih bijak mengendalikan konsumsi gula dan mampu memanfaatkan bahan pangan lokal untuk mendukung pola makan yang lebih sehat,” katanya.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Berdasarkan hasil evaluasi, tingkat kepuasan peserta mencapai 97 persen, menunjukkan bahwa materi yang rikan dinilai relevan, mudah dipahami, dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak peserta mengaku baru mengetahui bahwa kandungan gula pada minuman kemasan yang sering dikonsumsi anak ternyata jauh lebih tinggi setelah dihitung berdasarkan jumlah sajian sebenarnya. Mereka juga melihat potensi besar produk pangan fungsional berbasis herbal untuk dikembangkan sebagai usaha rumahan karena bahan bakunya mudah diperoleh dan biaya produksinya relatif terjangkau.
Melalui kegiatan ini, AKAFARMA Banda Aceh, GEN-A, dan PKK Gampong Geuceu Iniem berharap masyarakat semakin cermat membaca informasi nilai gizi pada pangan kemasan, lebih bijak mengendalikan konsumsi gula anak, serta memanfaatkan kekayaan herbal Nusantara sebagai alternatif pangan sehat. Langkah sederhana tersebut diharapkan mampu menjadi bagian dari upaya mencegah diabetes sejak usia dini sekaligus mendorong lahirnya produk pangan lokal yang bernilai bagi kesehatan, ketahanan pangan, dan ekonomi keluarga.[]



















Tidak ada Respon