Skrol untuk membaca pos
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250

Jangan Abaikan Aspirasi Gen-Z: Mereka adalah Masa Depan Bangsa

20 dilihat
Ikmaldi Nabawi.
Example 468x60
A-AA+A++

Oleh: Ikmaldi Nabawi

PERNAHKAH terlintas dalam benak kita mengapa suara Generasi Z (Gen-Z) kerap dianggap sebelah mata dalam ruang publik? Padahal, generasi ini bukan sekadar kelompok yang menghabiskan waktu berselancar di media sosial atau mencari hiburan digital. Gen-Z tumbuh di era disrupsi informasi yang bergerak cepat, yang secara tidak langsung membentuk pola pikir kritis dan analitis sejak usia muda. Sayangnya, ketika mulai menyuarakan isu-isu substansial seperti reformasi pendidikan, kelestarian lingkungan, hingga dinamika politik, aspirasi mereka sering kali dipatahkan dengan label “terlalu idealis” atau “belum cukup umur“.

Example 300x600

Apakah kepedulian terhadap masa depan bangsa harus menanti usia senja?
​Secara kuantitas, potensi Gen-Z di Indonesia sangat signifikan dan tidak boleh diabaikan. Berdasarkan data Sensus Penduduk Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, Gen-Z resmi mendominasi struktur demografi Indonesia dengan persentase mencapai 27,94 persen (hampir 28 persen) dari total populasi. Fakta ini menegaskan bahwa hampir sepertiga penentu arah pembangunan bangsa berada di tangan generasi muda.

Gen-Z bukan lagi sekadar objek atau penonton pasif yang kerap dijuluki “generasi penerus”, melainkan subjek aktif yang sedang merumuskan masa depan melalui gagasan kreatif, aksi nyata, dan penguasaan teknologi digital.

Gen-Z sebenarnya tidak tinggal diam. Banyak dari mereka yang aktif menginisiasi diskusi publik, mengawal isu-isu sosial melalui platform digital, hingga turun langsung melakukan aksi kemanusiaan di lapangan. Namun, ruang partisipasi formal yang tersedia saat ini sering kali hanya bersifat seremonial atau pemanis birokrasi. Ketika kebijakan krusial mulai dirumuskan, keterlibatan anak muda kerap dikesampingkan. Dominasi pembuat kebijakan senior sering kali memperlakukan faktor usia sebagai indikator tunggal kematangan berpikir, sehingga ruang pengambilan keputusan menjadi eksklusif.

Pengalaman empiris dalam organisasi sekolah, OSIS, maupun komunitas kepemudaan memperlihatkan pola yang serupa. Banyak ide solutif mengenai pembaruan metode belajar yang adaptif atau kritik terhadap sistem birokrasi yang kaku, pada akhirnya hanya berakhir di meja kerja tanpa adanya tindak lanjut yang nyata. Sikap apatis yang mulai menjangkiti sebagian anak muda saat ini bukanlah bentuk ketidakpedulian alami. Hal tersebut merupakan akumulasi dari rasa lelah akibat aspirasi yang terus-menerus diabaikan dan dianggap tidak matang oleh kelompok dewasa.

​Padahal, Gen-Z memiliki paradigma dan pendekatan yang sangat dinamis dibandingkan generasi pendahulunya. Mereka lebih fleksibel, adaptif terhadap perubahan global, dan memiliki kepekaan tinggi terhadap isu kontemporer yang mendesak, seperti urgensi kesehatan mental, penegakan keadilan gender, dan mitigasi perubahan iklim. Sudut pandang ini sangat realistis dan kontekstual dengan tantangan zaman baru.

​Apabila suara dan aspirasi Gen-Z terus diabaikan, dampak jangka panjangnya akan sangat merugikan stabilitas bangsa. Indonesia berisiko menghadapi krisis apati politik yang akut, di mana generasi muda menarik diri sepenuhnya dari proses pembangunan karena merasa suara mereka tidak memiliki andil. Selain itu, kebijakan publik yang dilahirkan berpotensi menjadi usang (obsolete) dan tidak relevan karena gagal mengakomodasi perkembangan teknologi dan globalisasi yang justru dikuasai oleh Gen-Z.

​Sebaliknya, melibatkan Gen-Z secara substantif dalam penyusunan kebijakan akan memberikan manfaat yang luar biasa. Kebijakan publik yang dihasilkan akan menjadi lebih inklusif, inovatif, dan berwawasan masa depan. Keterlibatan mereka memastikan bahwa program-program pemerintah tepat sasaran, terutama dalam mempercepat transformasi digital.

Langkah ini juga efektif membangun kepercayaan publik (public trust) sejak dini sekaligus mempersiapkan proses regenerasi kepemimpinan yang matang dan teruji.

​Keberhasilan pelibatan anak muda dalam ranah kebijakan bukan merupakan hal yang mustahil. Di tingkat internasional, Finlandia sukses menerapkan sistem Youth Councils (Dewan Pemuda) di tingkat pemerintah daerah yang diwajibkan oleh undang-undang untuk memberikan masukan mengikat dalam pengambilan keputusan lokal. Sementara di dalam negeri, beberapa daerah seperti Kota Bandung dan Surabaya telah merintis Musrenbang Pemuda (Musyawarah Perencanaan Pembangunan Pemuda). Forum formal ini memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengusulkan, menyusun, dan mengawal anggaran program yang ramah pemuda. Model partisipasi seperti ini membuktikan bahwa ketika anak muda diberi ruang dan kepercayaan formal, mereka mampu menghadirkan solusi yang berdampak luas.

​Gen-Z tidak menuntut ruang diskusi yang penuh dengan debat asumsi tanpa dasar. Mereka hanya membutuhkan ruang pelibatan yang setara, inklusif, dan bermartabat. Pemerintah, institusi pendidikan, dan pemangku kebijakan harus mulai membuka telinga dan pikiran untuk berdialog secara horizontal, bukan sekadar menjadikan pemuda sebagai pajangan seremonial. Masa depan bangsa ini terlalu berharga untuk dipertaruhkan dengan membungkam suara-suara yang sedang tumbuh. Memberikan ruang, kesempatan, dan kepercayaan kepada aspirasi Gen-Z hari ini adalah investasi fundamental demi keberlanjutan Indonesia di masa depan.[]

Penulis adalah Edukator Kesehatan GEN-A.

Example 300250
Example 120x600

Pos Terkait

Pos Terkait

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250