
Oleh: dr. Imam Maulana
PERNAHKAH anda mendengar kisah tentang Tiga Kancil Kecil?
Alkisah, hiduplah tiga Kancil kecil yang telah cukup dewasa untuk meninggalkan rumah induknya. Sebelum berpisah, sang induk berpesan agar mereka membangun rumah yang baik. Sebab suatu hari nanti, mereka harus hidup sendiri dan mampu melindungi diri ketika bahaya datang.
Ketiga Kancil itu pun memulai perjalanan mereka. Di tengah perjalanan, Kancil pertama menemukan setumpuk jerami. Ia berpikir, mengapa harus bersusah payah jika ada cara yang lebih mudah? Dengan cekatan ia menyusun jerami demi jerami hingga menjadi sebuah rumah. Tidak membutuhkan waktu lama, rumah itu pun selesai. Ia tersenyum puas dan menikmati hasil kerjanya.
Tak lama kemudian, Kancil kedua menemukan banyak potongan kayu. Menurutnya, kayu sudah cukup kuat untuk dijadikan rumah. Tidak seringan jerami, tetapi juga tidak terlalu sulit dikerjakan. Menjelang senja, rumah kayunya telah berdiri dengan rapi.
Kini, dua Kancil kecil itu telah memiliki rumah. Mereka dapat beristirahat, bermain, dan menikmati hari-hari mereka. Sementara itu, Kancil ketiga terus berjalan hingga menemukan batu bata. Ia memilih membangun rumahnya dari batu bata, meski tahu pekerjaan itu tidak akan mudah. Setiap bata harus disusun satu per satu, direkatkan dengan adukan, lalu dibiarkan mengering sebelum dapat dilanjutkan.
Hari demi hari berlalu…….
Ketika kedua saudaranya telah duduk bersantai di depan rumah masing-masing, Kancil ketiga masih sibuk mengangkat batu bata. Tangannya dipenuhi debu. Tubuhnya mulai lelah. Rumahnya bahkan belum selesai.
Sesekali kedua saudaranya datang menghampiri.
“Rumah kami sudah selesai.”
“Kau masih bekerja?”
“Kasihan sekali… sampai sekarang belum bisa beristirahat.”
Mereka menggeleng pelan, lalu kembali ke rumah masing-masing.
Kancil ketiga hanya tersenyum. Tanpa menjawab sepatah kata pun, ia kembali mengambil satu batu bata lagi.
Beberapa hari kemudian, rumah batu bata itu akhirnya selesai.
Rumah itu memang bukan yang pertama berdiri. Bukan pula yang paling cepat selesai.
Namun, ia selesai dibangun. Suatu pagi, ketenangan itu terusik. Seekor serigala besar datang menghampiri rumah jerami.
“Kancil kecil… Kancil kecil… bukakan pintunya.”
Kancil pertama menolak. Serigala menarik napas panjang, lalu meniup sekuat tenaga. Rumah jerami pun roboh seketika. Ketakutan, Kancil pertama berlari menuju rumah kayu milik saudaranya. Namun serigala kembali mengejar. Ia berdiri di depan rumah kayu, menarik napas lebih dalam, lalu meniup sekuat tenaga. Rumah kayu itu pun ikut runtuh.
Kini dua Kancil kecil itu berlari bersama menuju rumah batu bata.
Tanpa berkata, “Aku sudah bilang,” atau menyalahkan pilihan kedua saudaranya, Kancil ketiga membuka pintunya dan mempersilakan mereka masuk. Serigala kembali berdiri di depan rumah itu.Ia menarik napas sedalam-dalamnya.
Lalu meniup. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Bahkan berkali-kali lebih kuat daripada sebelumnya. Namun rumah itu tetap berdiri. Tidak bergeser. Tidak retak. Tidak roboh.
Beberapa tahun lalu, saya mengira kisah ini hanyalah dongeng tentang kerja keras. Pesannya sederhana: bekerja keras akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik.
Namun, semakin sering saya mengingatnya, semakin saya merasa ada sesuatu yang luput saya pahami ketika masih kecil.
Tokoh utama cerita ini ternyata bukan tiga Kancil kecil. Bahkan bukan pula rumah yang mereka bangun. Melainkan pilihan-pilihan kecil yang mereka ambil jauh sebelum serigala itu datang.
Karena ketika serigala akhirnya muncul, tidak ada lagi waktu untuk memperkuat dinding. Tidak ada kesempatan untuk mengganti jerami menjadi batu bata. Tidak ada waktu untuk membangun fondasi yang lebih kokoh. Yang tersisa hanyalah menerima konsekuensi dari apa yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Barulah saya menyadari, mungkin kisah ini tidak pernah benar-benar berbicara tentang rumah. Melainkan tentang kehidupan. Sebab cepat atau lambat, setiap orang akan bertemu “serigalanya” masing-masing. Saya menyadari dalam hidup kita sering tergoda untuk menjadi yang paling cepat. Cepat berhasil. Cepat sampai. Cepat diakui.
Tanpa sadar, kita mulai mengukur perjalanan sendiri dengan garis waktu milik orang lain. Kita melihat seseorang telah “selesai membangun rumahnya”, lalu merasa sedang tertinggal. Padahal, yang kita lihat hanyalah hasil akhirnya. Kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana rumah itu dibangun.
Mungkin itulah sebabnya jalan pintas selalu tampak menggoda. Ia menawarkan hasil yang lebih cepat, kenyamanan yang datang lebih awal, dan tepuk tangan yang terdengar lebih dahulu.
Namun, jalan pintas tidak pernah menghapus harga yang harus dibayar. Ia hanya menundanya. Yang paling mengusik saya justru bukan rumah jerami. Bukan pula rumah kayu. Melainkan serigala.
Seumur hidup kita diajarkan untuk membencinya. Padahal, semakin saya memikirkan kisah ini, semakin saya merasa bahwa serigala tidak sedang menciptakan masalah. Ia hanya memperlihatkan apa yang sejak awal sudah ada.
Mungkin hidup memang bekerja seperti itu. Ada kegagalan yang memperlihatkan seberapa kuat kita berdiri tanpa pengakuan. Ada kehilangan yang memperlihatkan tempat kita selama ini menggantungkan harapan. Karena itu, mungkin pertanyaan terbesar dalam hidup bukanlah apakah serigala akan datang. Cepat atau lambat, setiap orang akan bertemu “serigalanya” masing-masing.
Dan akhirnya saya sadar bahwa mungkin pada satu titik, kita adalah salah satu dari Kancil-Kancil kecil tersebut. Pertanyaannya, saat ini kamu Kancil yang mana? Walau ini bukan tentang Kancil…..[]
Penulis adalah Duta Pemuda Indonesia 2025 Prov Aceh/ Direktur Eksekutif GEN-A.
tentang penulis:
dr. Imam Maulana adalah seorang dokter yang aktif mendampingi berbagai komunitas dan organisasi kepemudaan. Melalui tulisan-tulisannya, ia gemar mengangkat refleksi sederhana dari pengalaman sehari-hari untuk mengajak pembaca melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.


















Tidak ada Respon