
Surakyat.com | Banda Aceh – Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Pra PORA Cabang Olahraga (Cabor) Bola Voli, Saiful menegaskan, pihaknya tetap komit menjalankan amanah dan arahan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Aceh untuk menyukseskan pelaksanaan kualifikasi menuju PORA XV Aceh Jaya. Pernyataan tersebut disampaikan Saiful menanggapi surat penolakan dari Pengprov PBVSI Aceh terkait pengambilalihan pelaksanaan Pra PORA Cabor Voli.
Surat penolakan itu diketahui ditandatangani langsung Ketua Pengprov PBVSI Aceh, Ir Mawardi Ali. Saiful mengatakan, pihaknya menganggap polemik tersebut sebagai dinamika dalam sebuah organisasi. Menurutnya, selama belum ada perubahan mandat dari KONI Aceh, panitia bersama para pegiat voli akan tetap mempersiapkan seluruh kebutuhan pertandingan. “Kami pikir itu hanya sebuah dinamika dalam berorganisasi,” ujarnya.
“Sejauh ini, kami bersama teman-teman pegiat voli masih memegang teguh amanah dari KONI Aceh untuk menggulirkan turnamen ini. Jadi belum terpikir untuk balik kanan,” kata Saiful, Sabtu (15/8/2026). Saiful didampingi Ketua Pelaksana untuk nomor voli outdoor atau voli pasir, Arismunandar, saat menyampaikan pernyataan tersebut mengatakan, persiapan venue pertandingan kini terus dilakukan.
Untuk nomor voli indoor, panitia mempersiapkan lapangan di hall utama Gedung Jantho Sport City (JSC). Di dalam gedung tersebut akan disiapkan dua lapangan yang masing-masing digunakan untuk pertandingan putra dan putri. Sementara itu, untuk nomor voli pasir, dua lapangan outdoor juga sedang dipersiapkan di Kompleks Stadion JSC. Kedua lapangan tersebut nantinya digunakan untuk nomor putra dan putri.
“Intinya persiapan jalan terus. The show must go on,” tukasnya.
“Kami tetap menjalankan tugas yang diamanahkan kepada kami untuk menyukseskan Pra PORA Cabor Voli,” tegas Saiful.
Menurutnya, sesuai rencana awal, seluruh venue pertandingan ditargetkan sudah siap digunakan empat hari sebelum pelaksanaan pertandingan. Ia berharap seluruh tahapan persiapan tetap berjalan sesuai jadwal sehingga Pra PORA Voli dapat berlangsung lancar. Selain menjadi ajang kualifikasi menuju PORA, event tersebut juga diharapkan menjadi momentum silaturahmi bagi insan voli di Aceh. “Insya Allah semuanya kini masih on the track,” tambah Saiful.
“Semoga Pra PORA Voli yang sekaligus menjadi ajang reuni akbar insan voli di Aceh akan berlangsung sesuai harapan semua pihak,” ujar Saiful.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada KONI Aceh yang telah ikut memfasilitasi pelaksanaan Pra PORA Cabor Voli. Peduli Masa Depan Atlet Saiful bersama Arismunandar yang merupakan mantan pemain dan kini menjadi pelatih voli Aceh, mengungkapkan keterlibatan mereka dalam persiapan Pra PORA bukan semata-mata karena kepentingan organisasi.
Menurut mereka, para pegiat voli merasa terpanggil untuk ikut memastikan keberlanjutan kompetisi dan masa depan atlet voli Aceh. Bahkan, sejumlah pegiat voli yang terlibat disebut juga memiliki posisi dalam kepengurusan Pengprov PBVSI Aceh.
Mereka menilai, keberadaan event daerah seperti Pra PORA sangat penting bagi atlet karena menjadi bagian dari jalur pembinaan dan penjenjangan prestasi. Atlet yang mengikuti kompetisi tersebut memiliki kesempatan untuk melanjutkan karier ke ajang yang lebih tinggi, mulai dari PORA, Porwil atau Pra-PON hingga PON.
“Voli adalah rumah besar kami. Adalah kewajiban kami pula untuk ikut menyelamatkan nasib atlet yang notabene anak-anak kami sebagai sesama penghuni rumah besar, dengan spirit persaudaraan tanpa batas,” kata Saiful.
Karena itu, para pegiat voli berharap KONI kabupaten/kota maupun KONI Aceh tetap berkomitmen menjaga jalur prestasi atlet secara jelas dan berkesinambungan. Saiful menilai, sistem pelacakan atau tracking atlet sangat penting agar proses seleksi menuju PORA berlangsung transparan.
Atlet dari kabupaten/kota yang lolos Pra PORA harus tercatat dalam data Technical Delegate yang diserahkan kepada KONI Aceh. Data tersebut nantinya menjadi salah satu acuan dalam menentukan atlet yang berhak tampil pada PORA. “Intinya, kabupaten/kota yang lolos, para pemainnya tercatat dalam data Technical Delegate yang diserahkan kepada KONI Aceh untuk masuk data, sehingga hanya atlet yang lolos Pra PORA yang bisa bertanding di PORA,” jelasnya.
Menurut Saiful, pendaftaran atlet untuk PORA dilakukan oleh KONI masing-masing daerah. Sedangkan PB PORA juga memiliki daftar nama atlet berdasarkan data yang diterima dari KONI Aceh.
Dengan mekanisme tersebut, ia berharap tidak ada atlet yang masuk secara tiba-tiba atau “memotong” jalur prestasi pada tahapan berikutnya. “Dengan tracking yang jelas itu akan terhindar dari masuknya nama-nama yang ‘memotong’ di persimpangan,” pungkas Saiful.(min)


















Tidak ada Respon