
Oleh : Mina Shafira
“Hoaks ini lagi.”
Itu yang spontan terucap ketika saya melihat sebuah pesan berantai kembali muncul di grup WhatsApp tepat pada hari HUT RI ke-81.
Pesannya berbunyi:
“Kuota Gratis 81GB Spesial HUT RI ke-81. Aku baru saja klaim 😳. Cek apakah kamu juga dapat.”
Di bawahnya terdapat sebuah tautan dengan alamat yang tidak dikenal. Saya menemukan pesan semacam ini bukan hanya di satu grup. Bahkan, grup WhatsApp donor darah dan komunitas UMKM yang saya ikuti juga menerima pesan serupa. Rasanya seperti melihat kembali sebuah “hoaks tahunan” yang entah mengapa tidak pernah benar-benar berhenti.
Reaksi pertama saya adalah mengingatkan keluarga terdekat: jangan membuka tautan dan jangan meneruskan pesan ini.
Yang membuat saya bertanya-tanya bukan hanya mengapa pesan seperti ini kembali muncul, tetapi mengapa masih banyak orang yang meneruskannya. Padahal, pola penawaran kuota gratis melalui tautan mencurigakan bukanlah sesuatu yang baru. Bahkan, pemberitaan yang saya temukan dari 2017 sudah memuat peringatan agar masyarakat tidak membuka maupun menyebarkan tautan penawaran kuota gratis.
Hampir satu dekade berlalu, tetapi polanya masih berulang. Pada Agustus 2025, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) kembali mengklarifikasi pesan berantai WhatsApp yang menawarkan kuota internet gratis 50 GB dalam rangka menyambut HUT RI ke-80 sebagai hoaks. Tautan tersebut tidak memberikan informasi resmi mengenai hadiah kuota, tetapi justru mengarahkan pengguna ke situs lain.
Lalu, mengapa pola seperti ini masih kembali muncul? Salah satu jawabannya mungkin justru ada pada cara pesan tersebut dikemas.
Kata “gratis” memang sulit ditolak. Ketika berbagai kebutuhan sehari-hari tetap membutuhkan pengeluaran, tawaran sesuatu yang bisa diperoleh tanpa membayar tentu mudah menarik perhatian. Tawaran 81 GB juga dibuat seolah-olah sangat masuk akal karena disesuaikan dengan HUT RI ke-81. Ditambah lagi, kalimat “Aku baru saja klaim. Cek apakah kamu juga dapat” memberikan kesan bahwa seseorang telah membuktikan tawaran tersebut benar.
Di sinilah kita perlu memberi jeda sebelum percaya. Informasi yang sesuai dengan apa yang kita inginkan sering kali terasa lebih mudah dipercaya. Kita ingin mendapatkan kuota gratis, lalu datanglah pesan yang mengatakan bahwa kuota tersebut tersedia. Tanpa sadar, keinginan untuk mendapatkan sesuatu dapat membuat kita lupa mengajukan pertanyaan sederhana: siapa sumbernya? Apakah benar ada program tersebut? Mengapa tautannya bukan berasal dari laman resmi?
Persoalannya kemudian bukan hanya siapa yang membuat hoaks, tetapi mengapa kita masih memberi hoaks ruang untuk terus hidup.
Komdigi mencatat bahwa sepanjang 2024 terdapat 1.923 konten hoaks yang teridentifikasi. Dalam survei yang disampaikan Komdigi pada November 2025, sebanyak 11,9 persen responden mengaku pernah menyebarkan hoaks. Komdigi juga menekankan bahwa persoalan hoaks bukan hanya mengenai pihak yang membuat informasi palsu, tetapi juga kerentanan masyarakat untuk ikut menyebarkannya. Karena itu, masyarakat didorong menerapkan prinsip stop, think, verify, and share: berhenti sejenak, berpikir, memverifikasi, lalu membagikan informasi setelah yakin kebenarannya.
Bukan berarti setiap orang yang meneruskan broadcast memiliki niat buruk. Bisa jadi niat awalnya justru ingin berbagi sesuatu yang dianggap bermanfaat. Namun, niat baik tidak otomatis membuat informasi menjadi benar. Ketika kita meneruskan pesan yang belum diverifikasi, kita tetap dapat menjadi bagian dari rantai penyebarannya.
Risikonya pun bukan hanya soal memenuhi grup dengan pesan yang mengganggu atau membuat anggota lain ragu terhadap informasi yang beredar. Tautan yang tidak mengarah ke laman resmi juga dapat digunakan dalam modus penipuan digital. Pada Februari 2026, misalnya, Komdigi mengklarifikasi tautan yang menawarkan internet gratis. Tautan tersebut tidak mengarah ke situs resmi, melainkan meminta nama lengkap dan nomor Telegram. Dalam kasus tersebut, Komdigi menyebutnya sebagai modus phishing atau pencurian data pribadi.
Karena itu, memeriksa informasi sebelum membagikannya seharusnya menjadi kebiasaan sederhana. Ketika menerima broadcast seperti “Kuota Gratis 81 GB”, kita dapat memperhatikan alamat tautannya terlebih dahulu. Jika terlihat mencurigakan, jangan menjadikannya sebagai cara untuk memeriksa kebenaran dengan membuka tautan tersebut. Cari informasi melalui laman atau akun resmi pihak yang disebut dalam pesan.
Jika masih ragu dan tidak tahu bagaimana cara memeriksanya, tanyakan kepada orang yang dipercaya. Keluarga, teman, atau anggota grup yang lebih memahami teknologi dapat membantu memastikan apakah informasi tersebut valid. Jika tetap tidak mampu memastikan kebenarannya, tidak perlu merasa harus meneruskannya.
Tanggung jawab ini juga bukan hanya milik pengguna. Hal ini bahkan saya lihat langsung hari ini di grup donor darah yang saya ikuti. Setelah pesan “Kuota Gratis 81 GB” dibagikan di grup, beberapa anggota yang mengirimkan pesan tersebut dikeluarkan dari grup. Tindakan tersebut dilakukan sesuai dengan aturan yang sebelumnya sudah beberapa kali disampaikan admin bahwa grup digunakan untuk informasi terkait donor darah.
Sementara itu, di grup UMKM yang saya ikuti, admin memilih untuk langsung menghapus pesan tersebut untuk semua anggota. Dua respons ini menunjukkan bahwa admin memiliki peran nyata dalam menjaga ruang digital yang mereka kelola.
Jika admin sendiri belum mampu memastikan kebenaran sebuah informasi, tidak ada salahnya menyampaikan bahwa informasi tersebut perlu diverifikasi terlebih dahulu. Tidak harus selalu ada jawaban saat itu juga; terkadang, memberi jeda justru merupakan pilihan yang lebih aman.
Perusahaan yang layanannya kerap dicatut juga dapat mengambil peran lebih aktif. Jika pola hoaks tertentu berulang menjelang hari besar, edukasi dan peringatan dapat disampaikan melalui kanal resmi beberapa hari sebelumnya. Masyarakat tidak hanya membutuhkan klarifikasi setelah hoaks menyebar, tetapi juga pengingat sebelum masyarakat terlanjur mempercayainya.
Pada akhirnya, persoalan ini bukan tentang siapa yang paling pintar mengenali hoaks. Kita semua bisa menjadi penerima infor cbm asi yang keliru. Yang membedakan adalah apa yang kita lakukan setelah menerimanya: apakah kita langsung percaya dan meneruskan, atau berhenti sejenak untuk memeriksa?
HUT RI ke-81 seharusnya tidak hanya menjadi momentum untuk merayakan kemerdekaan, tetapi juga mengingatkan kita bahwa kebebasan menggunakan teknologi perlu berjalan bersama tanggung jawab untuk menggunakannya dengan aman dan bijak.
Kita tidak harus terburu-buru meneruskan setiap informasi yang kita terima. Jika kita tidak mampu memastikan sebuah informasi benar, tidak ada salahnya untuk tidak meneruskannya. Karena tidak semua informasi harus dibagikan.
Penulis adalah Wakil Direktur Bidang Internal GEN-A


















Tidak ada Respon