Skrol untuk membaca pos
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250

Antara Gotong Royong dan Ekspektasi: Pernikahan di Tengah Perubahan Generasi

6 dilihat
Nur Aida Rossa
Example 468x60
A-AA+A++

Oleh: Nur Aida Rossa

PERNIKAHAN memang menyatukan dua orang, tetapi dalam masyarakat Aceh, maknanya tidak berhenti pada pasangan yang menikah. Pernikahan juga menjadi bagian dari kehidupan sosial: mempertemukan keluarga, mempererat silaturahmi, dan mengumumkan kepada kerabat serta masyarakat sekitar bahwa sebuah pernikahan telah berlangsung secara sah. Dalam konteks itu, resepsi menjadi bagian dari keterbukaan dan kebersamaan di tengah-tengah masyarakat.

Example 300x600

Namun, apakah fungsi sosial sebuah resepsi selalu mengharuskan perayaannya menjadi besar?

Bukankah tujuan tersebut dapat dicapai dengan berbagai cara? Mengundang keluarga dan orang terdekat, membagikan makanan kepada masyarakat sekitar, atau menyampaikan kabar pernikahan kepada lingkungan pun dapat menjadi bentuk pengumuman dan rasa syukur. Di zaman sekarang, kabar bahwa seseorang telah menikah juga dapat dibagikan melalui media sosial.

Foto akad, ucapan syukur, atau sekadar pengumuman dapat menjangkau kerabat dan teman yang tidak hadir secara langsung. Media sosial tentu tidak menggantikan silaturahmi, tetapi menunjukkan bahwa cara mengabarkan sebuah pernikahan kini semakin beragam.

Di sinilah perubahan cara pandang generasi muda menarik untuk diperhatikan. Sebagian pasangan mungkin cukup dengan akad, keluarga terdekat, dan perayaan sederhana. Mereka ingin menyisihkan lebih banyak sumber daya untuk kehidupan setelah menikah: tempat tinggal, perlengkapan rumah, usaha, pendidikan, tabungan, atau kebutuhan lainnya.

Keinginan tersebut bukan berarti tidak menghargai keluarga atau budaya. Mereka mungkin hanya ingin memulai kehidupan dengan cara yang menurut mereka lebih sesuai.

Di sisi lain, ada pula pasangan dan keluarga yang memang menginginkan pesta besar, dekorasi yang indah, pakaian pengantin, dan dokumentasi lengkap. Selama sesuai kemampuan dan menjadi kebahagiaan bagi mereka, tentu tidak ada yang salah.

Yang perlu kita beri ruang adalah pilihan.

Sebab biaya pernikahan dapat dengan cepat menjadi besar. Konsumsi untuk ratusan tamu, pakaian dan tata rias, dekorasi, dokumentasi, serta berbagai kebutuhan lainnya dapat menghabiskan puluhan juta rupiah. Dan tidak semua biaya tersebut ditanggung pasangan. Dalam banyak keluarga, orangtua menjadi pihak yang membiayai sebagian besar acara sebagai bentuk kasih sayang.

Namun, justru karena dana tersebut berasal dari hasil kerja keras keluarga, ada baiknya penggunaannya juga dipertimbangkan bersama. Apakah seluruhnya harus diarahkan untuk satu hari perayaan, atau sebagian dapat menjadi bekal bagi pasangan menjalani kehidupan setelah menikah?

Tempat tinggal, perlengkapan rumah, modal usaha, dan tabungan juga merupakan bentuk mempersiapkan pernikahan. Hanya saja, hasilnya tidak selalu terlihat pada hari perayaan.

Hal serupa dapat kita lihat dalam budaya saling memberi. Saya mengapresiasi gotong royong yang masih kuat dalam masyarakat Aceh. Ketika seseorang menikah, kerabat dan tetangga hadir membantu. Ada yang memberikan uang, makanan, tenaga, kain, sarung, sprei, atau peralatan rumah tangga. Semua itu merupakan bagian indah dari kebersamaan. Namun, pemberian dapat kehilangan maknanya ketika mulai dianggap sebagai sesuatu yang harus dibalas.

“Dulu saya memberi sekian ketika dia menikah.”

Ketika pemberian harus dikembalikan dengan nilai serupa, gotong royong perlahan dapat berubah menjadi kewajiban timbal balik. Padahal kemampuan setiap orang berbeda. Ada yang mampu memberi banyak, ada yang sedikit, bahkan ada yang mungkin hanya mampu hadir.

Mungkin yang perlu kita jaga bukan nominalnya, melainkan ketulusan untuk berbagi.

Ada pula sisi lain yang jarang dibicarakan: pengalaman pengantin sendiri, terutama perempuan.

Bagi sebagian perempuan, mengenakan pakaian pengantin atau busana adat, berdandan, dan mengabadikan momen bersama keluarga tentu menyenangkan. Namun, bagi sebagian lainnya, pakaian yang berat, riasan selama berjam-jam, panas, berdiri atau duduk lama, hingga berpindah dari satu sesi foto ke sesi lainnya dapat melelahkan.

Kadang saya bertanya pada diri sendiri: apakah pengantin benar-benar sedang menikmati pernikahannya, atau justru terlalu sibuk menjalani seluruh rangkaian perayaan?

Mungkin bagi sebagian orang, semua itu justru bagian paling membahagiakan. Dan itu sah-sah saja. Namun, ada pula yang mungkin lebih menikmati perayaan yang singkat dan memberi ruang untuk benar-benar hadir dalam momennya sendiri.
Pada akhirnya, saya tidak sedang mengajak kita meninggalkan budaya pernikahan. Saya berharap nilai-nilai baik di dalamnya tetap terus hidup, sementara bentuk perayaannya dapat berkembang mengikuti kebutuhan dan pilihan setiap keluarga.

Ukuran kemeriahan seharusnya tidak menjadi ukuran kebermaknaan sebuah pernikahan.

Resepsi tetap dapat menjadi ruang untuk mengumumkan pernikahan, mempererat silaturahmi, dan merayakan kebahagiaan. Gotong royong tetap dapat hidup dalam berbagai bentuk. Yang dibutuhkan mungkin bukan perubahan pada nilai yang kita pegang, melainkan kelapangan untuk menerima bahwa cara merayakannya dapat berbeda.

Sebab pada akhirnya, yang kita rayakan memang pernikahannya. Tetapi yang akan dijalani oleh pasangan adalah kehidupan setelah pernikahan itu selesai.(*)

Penulis adalah Mahasiswi Magister Biologi Universitas Syiah Kuala yang aktif di bidang Pendidikan, Kepemudaan dan Sosial.

Example 300250
Example 120x600

Pos Terkait

Pos Terkait

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250