Skrol untuk membaca pos
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250

Edukasi Gizi Berbasis Pangan Lokal, LKC Dompet Dhuafa Aceh Dampingi Ibu Balita di Desa Data Makmur Blang Bintang

LKC Dompet Dhuafa Aceh Melalui Program Gerakan Mama Peduli Gizi Balita (Gempita) Menyelenggarakan Edukasi Gizi dan Demo Masak Berbasis Isi Piringku di Desa Data Makmur, Kecamatan Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar, Senin (19/10/2026).
Example 468x60
A-AA+A++

Surakyat.com | Aceh Besar – Pemenuhan gizi seimbang sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) berperan penting dalam mendukung tumbuh kembang anak dan mencegah stunting. Namun, pengetahuan tentang gizi perlu disertai keterampilan orang tua dalam memilih bahan pangan, mengolah makanan, dan menyajikan menu sesuai kebutuhan anak.

Untuk memperkuat keterampilan tersebut, Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhuafa Aceh (LKC Dompet Dhuafa Aceh) melalui program GEMPITA (Gerakan Mama Peduli Gizi Balita) menyelenggarakan edukasi gizi dan demo masak berbasis Isi Piringku di Desa Data Makmur, Kecamatan Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar, Senin (19/10/2026).

Example 300x600

Kegiatan yang dipandu ahli gizi Rahmawati STr Gz ini mengajak ibu balita memahami penerapan gizi seimbang dengan memanfaatkan bahan pangan lokal yang mudah diperoleh. Peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai komposisi makanan, tetapi juga mempraktikkan pengolahan menu yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Mengacu pada pedoman Isi Piringku Kementerian Kesehatan RI, setengah piring diisi makanan pokok dan lauk-pauk, sedangkan setengah lainnya diisi sayur dan buah. Pembagian ini membantu keluarga menyusun makanan yang lebih beragam dan seimbang dalam setiap waktu makan.

Demo Masak: Mengolah Bahan Lokal Menjadi Menu Menarik
Salah satu tantangan yang kerap dihadapi orang tua adalah anak yang sulit makan atau mengalami Gerakan Tutup Mulut (GTM), termasuk menolak jenis makanan tertentu seperti sayur dan ikan. Melalui demo masak interaktif, peserta belajar mengolah bahan pangan menjadi menu yang lebih menarik tanpa mengabaikan kebutuhan gizi anak.

Dua menu yang dipraktikkan adalah Sup Ayam Pelangi dan Bola-Bola Tahu Emas. Keduanya memadukan sejumlah bahan pangan dengan fungsi gizi yang saling melengkapi. Sup Ayam Pelangi memanfaatkan kentang sebagai sumber karbohidrat, ayam sebagai sumber protein hewani, serta wortel dan brokoli sebagai sumber vitamin, mineral, dan serat.

Sementara itu, Bola-Bola Tahu Emas mengombinasikan tahu dan telur sebagai sumber protein dengan tambahan sayuran. Buah pepaya juga diperkenalkan sebagai bagian dari sajian buah untuk melengkapi menu. Selain variasi bahan, peserta mempelajari penyajian makanan dengan bentuk dan warna yang lebih menarik agar anak memiliki kesempatan mengenal beragam jenis pangan.

Rahmawati STr Gz menekankan bahwa pemenuhan gizi anak tidak cukup hanya dengan memberikan makanan dalam jumlah banyak, tetapi perlu memperhatikan variasi dan keseimbangan jenis pangan.
“Orang tua perlu memahami bahwa makanan anak bukan hanya soal kenyang, tetapi juga tentang keragaman dan keseimbangan zat gizi.

Melalui konsep Isi Piringku, kami ingin membantu ibu balita menyusun menu yang lebih beragam dengan memanfaatkan bahan pangan lokal yang tersedia. Dengan begitu, ibu memiliki lebih banyak pilihan dalam menyiapkan makanan yang sesuai dengan kebutuhan anak,” jelas Rahmawati.

Selain praktik memasak, peserta mendapatkan edukasi mengenai kebersihan pangan dan cara pengolahan makanan yang baik untuk menjaga kualitas makanan. Sesi ini juga menjadi ruang konsultasi bagi ibu balita untuk mendiskusikan variasi menu harian dan tantangan pemberian makan yang mereka hadapi di rumah.

Salah seorang peserta mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut memberinya pemahaman baru mengenai porsi makan dan variasi menu anak. “Selama ini saya kira porsi makan anak yang penting nasinya banyak. Lewat edukasi hari ini, saya lebih memahami pembagian Isi Piringku dan mendapat ide untuk menyajikan makanan seperti Sup Ayam Pelangi dan Bola-Bola Tahu agar lebih menarik bagi anak,” tuturnya.

Penguatan Keluarga sebagai Bagian dari Pencegahan Stunting
Kepala Wilayah LKC Dompet Dhuafa Aceh, Arfan Ramadhan, menegaskan bahwa upaya pencegahan stunting membutuhkan keterlibatan keluarga dan masyarakat secara berkelanjutan. “Pemenuhan gizi anak membutuhkan kerja bersama, mulai dari keluarga, kader, tenaga kesehatan hingga pemerintah desa. Kami ingin edukasi seperti ini tidak berhenti pada kegiatan, tetapi dapat diterapkan dalam menu harian dengan memanfaatkan bahan pangan yang mudah dijangkau keluarga. Perubahan kebiasaan di rumah menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang anak,” ujar Arfan.

Melalui GEMPITA, LKC Dompet Dhuafa Aceh berupaya memperkuat pengetahuan dan keterampilan ibu balita dalam menerapkan gizi seimbang di tingkat keluarga. Edukasi yang disertai praktik langsung diharapkan membantu orang tua lebih percaya diri dalam menyusun menu yang beragam, bergizi, dan sesuai kebutuhan anak.

Upaya ini menjadi bagian dari pendekatan promotif dan preventif untuk mendukung tumbuh kembang balita. Dengan kolaborasi antara keluarga, kader, tenaga kesehatan, dan pemerintah desa, kebiasaan pemberian makan yang lebih baik diharapkan dapat diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.(*)

Example 300250
Example 120x600

Pos Terkait

Pos Terkait

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250