Skrol untuk membaca pos
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250

Menyingkap Bencana di Balik Gaya Hidup, Bahaya Ketenangan Semu Konsumerisme

Ustadz Dr. Amri Fatmi, Lc, MA.
Example 468x60
A-AA+A++

Ustadz Oleh: Ustadz Dr. Amri Fatmi, Lc., MA

(Disampaikan pada Kajian Ba’da Maghrib di Masjid Oman Al-Makmur, Banda Aceh, Jumat, 2 Oktober 2026)

Example 300x600

Peringatan Rasulullah SAW tentang Fitnah Akhir Zaman

Rasulullah SAW dalam sebuah hadis telah memberikan gambaran yang sangat presisi mengenai fenomena masyarakat di akhir zaman.

Beliau bersabda bahwa akan datang suatu masa di mana segolongan umatnya hidup bermewah-mewahan: menikmati berbagai jenis makanan, mencicipi aneka macam minuman, mengenakan pakaian bermerek dengan beragam corak, serta bertutur kata dengan sombong, menggebu-gebu, dan tidak bijaksana.

Rasulullah SAW mengategorikan mereka sebagai seburuk-buruk umatnya.

Hadis ini bukan sekadar nubuat sejarah, melainkan petunjuk tajam yang menelanjangi realitas kehidupan modern hari ini.

Tanpa kita sadari, kita telah diseret ke dalam sebuah pola hidup yang menempatkan kemewahan material sebagai standar tunggal kehormatan dan kesuksesan manusia.

Imperialisasi Impian dan Perangkap Konsumerisme

Saat ini, masyarakat dunia—termasuk generasi muda—sedang berada dalam cengkeraman imperialisasi impian.

Melalui tayangan media, iklan, film, dan media sosial, narasi tentang “kehidupan ideal” dijejalkan ke dalam benak kita secara masif.

Kita didikte bahwa hidup sukses adalah ketika seseorang memiliki rumah megah dengan perabot modern, mengendarai mobil keluaran terbaru, berlibur ke tempat-tempat mewah, serta mengenakan pakaian berbahan mahal dan bermerek.

Dampaknya sungguh fatal. Pikiran kita terdistorsi sehingga menganggap bahwa barang siapa yang belum mencapai tahapan konsumtif tersebut, maka ia dianggap belum sukses atau gagal dalam hidup.

Ketakutan dan kegelisahan pun timbul di tengah masyarakat akibat mengejar standar hidup yang sengaja diciptakan oleh para kapitalis.

Sebagai analogi, industri kapitalis bertindak seperti perbankan yang mengundi satu buah mobil mewah untuk dipromosikan kepada jutaan orang.

Hanya satu orang yang mendapatkan mobil tersebut, sementara jutaan orang lainnya dibuat sengsara dan merana karena memimpikan hal yang sama. Industri ini menjual penderitaan orang banyak hanya demi keuntungan segelintir pihak.

Pergeseran Zaman dan Beban Ekologis Bumi

Sejarah mencatat perkembangan peradaban dari era industrialisasi di abad ke-18 dan ke-19 menuju era konsumerisme di abad ke-20 hingga hari ini.

Jika dahulu keberhasilan diukur dari kemampuan memproduksi barang, kini ukuran tersebut bergeser pada seberapa banyak manusia mampu mengonsumsi hasil industri.

Bahkan, tolok ukur kemajuan suatu negara—termasuk Indonesia—sering kali diukur dari Gross Domestic Product (GDP).

Di Indonesia, lebih dari 50 persen GDP didukung oleh tingkat konsumsi rumah tangga.

Artinya, tanpa perlu kerja keras pemerintah dalam menciptakan inovasi besar, angka pertumbuhan ekonomi naik dengan sendirinya hanya karena tingginya tingkat konsumsi masyarakatnya.

Padahal, pola hidup konsumtif ini menimbulkan beban ekologis yang amat dahsyat bagi bumi.

Daya Dukung Alam yang Terkuras: Para ahli menaksir bahwa jika gaya hidup manusia modern terus dipertahankan, dibutuhkan sumber daya dari lima buah planet bumi untuk menopang kebutuhan konsumsi manusia.

Krisis Sampah dan Emisi Karbon: Pengemasan barang dan makanan modern berbahan plastik tidak dapat terurai oleh bumi.

Makanan yang kita konsumsi sering kali menghasilkan sampah yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya bagi lingkungan daripada zat makanan itu sendiri.

Orang tua kita dahulu menggunakan bungkus daun pisang yang ramah lingkungan, namun kini kemasan plastik berkilau yang merusak alam justru dianggap lebih bergengsi.

Sebaliknya, negara kecil seperti Bhutan telah lama meninggalkan GDP dan beralih ke indikator Gross National Happiness (Indeks Kebahagiaan).

PBB pun mulai mengakui pentingnya mengukur kebahagiaan berdasarkan ketenangan jiwa, keharmonisan sosial, dan keamanan perasaan, bukan sekadar jumlah barang yang dibeli atau dikonsumsi.

Perspektif Islam: Antara Kefakiran dan Ketakserakahan

Islam membawa pandangan yang sangat bertolak belakang dengan prinsip kapitalisme.

Rasulullah SAW menegaskan dalam hadis sahih riwayat Imam Bukhari:

“Demi Allah, bukanlah kefakiran yang paling aku takutkan menimpa kalian. Tetapi yang sangat aku takutkan adalah ketika dunia dan kemudahannya dibukakan untuk kalian sebagaimana telah dibukakan untuk orang-orang sebelum kalian, lalu kalian saling berlomba-lomba mengumpulkannya hingga hal itu membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka.”

Rasulullah SAW tidak takut jika umatnya fakir, selama mereka saleh, bertakwa, dan bersahaja.

Yang membinasakan manusia bukanlah status kaya atau miskinnya, melainkan sikap serakah (greedy). Orang kaya yang serakah akan merusak gunung demi menguras emas dan nikel.

Orang miskin yang serakah juga dapat menimbulkan bahaya. Ketakserakahan dan kerelaan hatilah yang menjadi fondasi keselamatan.

Kesederhanaan 1/24 Sifat Kenabian

Dalam hadis riwayat Abu Daud, Rasulullah SAW juga bersabda bahwa petunjuk yang baik (al-hadyus shalih), penampilan yang sopan (as-simtus shalih), serta gaya hidup sederhana (al-iqtishad) merupakan 1 dari 24 bagian dari sifat kenabian.

Gaya hidup bersahaja adalah jalan langsung untuk mendekatkan diri pada karakter para nabi.

Seruan Revolusi Gaya Hidup bagi Generasi Muda

Sudah saatnya kita, terutama generasi muda (Gen Z) dan kita semua, membalikkan cara pandang terhadap makna kesuksesan.

Sukses Sejati: Sukses bukanlah memiliki rumah paling megah yang hanya dihuni satu orang, atau mengendarai mobil paling mahal.

Sukses sejati adalah kemampuan untuk bertahan hidup dalam kesed8erhanaan, tinggal di rumah yang asri dan penuh kehangatan, serta meminimalkan jejak karbon dan sampah yang merugikan alam.

Menjaga Bumi: Kita harus menyadari tanggung jawab moral terhadap bumi tempat kita tinggal. Menurunkan emisi karbon, mengurang konsumsi barang tak berguna, dan memilih gaya hidup yang ramah lingkungan adalah bagian nyata dari pengamalan ajaran Islam.

Mari kita bebaskan diri kita dari tipu daya propaganda konsumerisme. Dengan kembali pada kesederhanaan dan ketakwaan, kita tidak hanya menyelamatkan jiwa dan iman kita di akhirat, tetapi juga melestarikan bumi untuk generasi mendatang.(*)

Example 300250
Example 120x600

Pos Terkait

Pos Terkait

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250