Skrol untuk membaca pos
Example 325x300
Example 728x250

Dari Kisah Syahidnya Tgk Ishak Daud dan Pembebasan Ferry Santoro: “Mereka adalah Keluargaku..!!”

4 dilihat
Cut Rosnita, Ambiya, Annisa dan NA Riya Ison.
Example 468x60
A-AA+A++

Oleh NA Riya Ison

HARI itu, tanggal 18 Mei 2004, menjadi lembaran penting dalam perjalanan penjang sejarah kemanusiaan di Aceh. Ferry Santoro, kamerawan RCTI yang berbulan-bulan di tengah hutan disandera oleh pasukan GAM wilayah Peurelak di bawah pimpinan Teungku Ishak Daud, akhirnya resmi dibebaskan.

Example 300x600

Namun di balik sorot kamera dunia yang tertuju pada sang jurnalis, sebuah fragmen senyap namun krusial tengah dipertaruhkan di sudut Hotel Kartika Langsa. Beberapa saat setelah kepastian bebasnya Ferry, suasana di lapangan masih sangat cair, penuh euforia sekaligus ketidakpastian.

Di sanalah saya berdiri, berhadapan langsung dengan Cut Rostina yang mendekap anaknya Ambiya kecil, didampingi oleh Cut Annisa serta seorang anggota keluarga setia yang biasa mendampingi mereka.

Kehadiran sosok-sosok yang baru turun dari mobil itu segera membuat rasa penasaran orang-orang di sekitar hotel. Tatapan penuh selidik mulai mengarah tajam. Dalam sekejap, kerumunan orang yang sebagian besar dari TNI berpakaian sipil itu mulai mendekat dan melontarkan pertanyaan mendesak: “Siapa mereka?”

Insting perlindungan kemanusiaan saya sebagai relawan PMI langsung bergejolak. Menyadari risiko keamanan yang mengintai serta potensi tekanan psikologis pada sang ibu dan anak-anak balitanya jika identitas mereka terekspos secara liar, saya langsung memotong kecurigaan massa dengan satu kalimat perlindungan.”Mereka keluargaku,” jawab saya tegas.

Jawaban spontan itu berhasil meredam situasi sejenak, namun ancaman kejadian yang tidak diinginkan masih sangat nyata di setiap detik. Tanpa buang waktu, saya segera bergerak melaporkan situasi darurat ini kepada Sekretaris Jenderal PMI saat itu, Pak Iyang Sukandar.

Kepada beliau, saya menyarankan sebuah langkah berani demi keselamatan jiwa: mengamankan Cut Rostina beserta anak-anaknya di dalam kamar hotel yang ditempati langsung oleh Ketua Umum PMI, Pak Mar’ie Muhammad.

Di bawah naungan bendera netralitas PMI dan reputasi besar Pak Mar’ie, kamar di Hotel Kartika Langsa hari itu bertransformasi menjadi benteng perlindungan paling aman, menjauhkan Ambiya dan Annisa kecil dari hiruk-pikuk konflik yang sedang berkecamuk hebat.

 Malam pun jatuh, matahari bersembunyi, menandai berakhirnya fragmen ketat di Hotel Kartika Langsa.Untuk memastikan keselamatan yang lebih dan dalam jangka panjang, diputuskan bahwa Cut Rostina dan keluarganya harus segera meninggalkan hotel Kartika Langsa malam itu juga untuk menuju Kota Medan, Sumatera Utara didampingi oleh pengacara Alamsyah.

Saat mobil bersiap membelah kegelapan malam menuju luar Aceh, ada satu kepedulian kecil namun mendalam yang sempat tertinggal. Menyadari jauhnya perjalanan yang harus ditempuh oleh anak-anak yang masih balita tersebut, saya menyelipkan sebuah bantal kecil ke dalam kendaraan yang ditumpangi Cut Rostina.

Sebuah bantal sederhana, agar Cut Annisa atau Ambiya bisa menyandarkan kepala dan tidur dengan nyaman di sepanjang jalur panjang kemanusiaan yang sedang mereka tempuh. Namun, fragmen penyelamatan di Hotel Kartika pada 18 Mei 2004 itu rupanya hanyalah satu episode pendek dari garis takdir yang jauh lebih kelam sekaligus agung.

Waktu terus bergulir hingga gerimis sejarah tumpah di belantara Alue Nireh, Kabupaten Aceh Timur, pada tanggal 8 September 2004. Sunyi hutan pecah oleh rentetan tembakan mencekam. Pasukan TNI mengepung rapat. Jarak baku tembak dalam Ring-1, sangat dekat dan dekat sekali.

Di garis depan yang terjepit itu, Panglima Ishak Daud berdiri kokoh, dan di sisinya, Cut Rostina—wanita tegar yang malam itu kami lepas dengan doa dan sebuah bantal kecil—memilih setia mendampingi sang suami menjemput takdir.

Saat riuh senjata mereda, sebuah pemandangan menyayat hati ditemukan dalam kamp darurat yang hancur: dua buah ayunan anak-anak yang kosong, berayun pelan ditiup angin dingin di belantara hutan yang tidak ramah. Sesekali terlihat daun-daunan jatuh melayang menimpa ayunan yang kosong itu..

Ayunan itu adalah jejak cinta yang tersisa. Menyadari maut kian mendekat, insting sang ayah dan ibu telah bergerak lebih cepat dari kecepatan lari amunisi bahkan lebih cepat dari terjangan peluru. Beberapa waktu sebelum penyergapan, mereka telah mengevakuasi buah hati mereka—Ambiya yang baru berusia 3,5 tahun dan adiknya Annisa—secara rahasia ke tempat aman di Idi Rayeuk.

Kedua bocah itu selamat berkat naluri pelindung orangtua mereka, serta rentetan tangan kemanusiaan yang sempat menyelimuti mereka sejak masa-masa genting pasca-pembebasan Ferry Santoro. Di bawah kepungan yang mustahil ditembus, Ishak Daud dan Cut Rostina gugur –semoga tercatat sebagai syuhada– bersama, meninggalkan ayunan kosong di tengah hutan sebagai saksi bisu pengorbanan terbesar sebuah keluarga untuk sebuah cita-cita.

Dua foto lama ini bukan sekadar dokumentasi; ia adalah potongan teka-teki sejarah yang menghubungkan ketegangan tanggal 18 Mei di Langsa, kehangatan bantal kecil di mobil pengacara Alamsyah, hingga takdir akhir di Alue Nireh—sebuah saksi bisu dari keputusan cepat yang menyelamatkan tunas-tunas masa depan di tengah badai konflik yang seakan tak berujung.

Syahidnya Tgk Ishak Daud dan Cut Rostina tanggal 8 September 2004 dan Fragmen Pembebasan Sandera Ferry Santoro, 18 Mei 2004 menjadi bagian dari episode panjang proses damai di Serambi Mekkah. Tragedi kemanusiaan itu sudah berlalu lebih dari 22 tahun, namun masih segar dalam ingatan ku, seakan detik-detik penyelesaian konflik kemanusiaan itu, seperti baru saja terjadi kemarin.

Dibalik jiwa kesatria sebagai pekerja kemanusiaan dalam konflik Aceh, saya tetap sebagai manusia yang memiliki hati nurani. Di setiap selesai shalat, dalam hening, saya sering menadahkan tangan untuk memanjat doa kehadirat Tuhan yang maha kuasa.

Ya Allah, ampunilah Teungku Ishak Daud dan Cut Rostina. Terimalah kepulangan mereka di haribaan-Mu sebagai syuhada yang mulia.  Lapangkanlah kubur mereka dengan cahaya-Mu, tempatkanlah keduanya di surga Jannatul Firdaus, dan jagalah anak-anak yatim yang mereka tinggalkan agar selalu berada dalam naungan rahmat-Mu. Amin Ya Rabbal ‘Alamin……

Dalam hati kecilku  suatu saat nanti, saya berharap bisa melihat kembali Ambiya dan Annisa yang sedang memeluk bantal kecil yang ku titipkan untuk mereka dalam mobil di depan Hotel Kartika malam itu, 22 tahun lalu, tentu saja dalam suasana yang berbeda dan yang pasti mereka sudah besar-besar dan sedang meniti masa depannya, meninggalkan lembah sunyi yang pernah mereka lalui.

Semoga….

NA Riya Ison adalah pekerja kemanusiaan dalam konflik Aceh

Example 300250
Example 120x600

Pos Terkait

Pos Terkait

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250