
ySurakyat.com | Banda Aceh— Menjadi pemuda yang aktif tidak cukup hanya dengan semangat untuk berorganisasi. Kemampuan berkomunikasi, mengajar atau mengedukasi, bekerja dalam tim, serta mengelola gagasan menjadi proyek merupakan keterampilan yang dibutuhkan agar pemuda mampu mengambil peran dan menghadirkan kontribusi nyata di masyarakat.
Hal tersebut menjadi fokus Training Calon Anggota Muda GEN-A yang digelar Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A) di Sekretariat GEN-A, Banda Aceh, Minggu (4/10/2026).
Training yang berlangsung pukul 14.00–17.00 WIB tersebut diikuti 15 calon anggota sebagai bagian dari rangkaian Open Recruitment GEN-A. Kegiatan dirancang untuk memberikan fondasi pengetahuan dan keterampilan bagi peserta sebelum terlibat lebih jauh dalam organisasi maupun berbagai program GEN-A.
Penguatan kapasitas tersebut relevan dengan pembangunan kepemudaan di Aceh. Berdasarkan Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) 2024, Aceh mencatat skor 58,00 dan masuk dalam 10 provinsi dengan capaian IPP tertinggi secara nasional. Atas capaian tersebut, Pemerintah Aceh menerima Penghargaan Wirasena 2025 dari Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia.
Di sisi lain, laporan IPP Kemenpora menunjukkan domain partisipasi dan kepemimpinan Aceh berada pada angka 46,67, lebih rendah dibandingkan capaian nasional sebesar 50. Persentase pemuda Aceh yang aktif dalam organisasi juga tercatat sekitar 6 persen.
Dalam konteks tersebut, ruang pembelajaran yang mendorong pemuda untuk berkomunikasi, mengedukasi, berorganisasi, berpartisipasi, dan mengembangkan keterampilan menjadi penting. Training calon anggota GEN-A dikembangkan dalam kerangka tersebut melalui tiga materi utama, yaitu Teknik Edukasi Berbasis Komunikasi Antarpribadi (KAP), GEN-A 101, dan Basic Project Management.
Komunikasi Menjadi Fondasi Edukasi
Materi Teknik Edukasi Berbasis Komunikasi Antarpribadi (KAP) membekali peserta dengan kemampuan membangun komunikasi yang efektif dan kedekatan dengan audiens. Keterampilan ini menjadi dasar bagi pemuda yang nantinya dapat berperan sebagai educator, peer educator, fasilitator, maupun penggerak kegiatan di masyarakat.
Imam Maulana, fasilitator training, mengatakan keberhasilan edukasi tidak hanya ditentukan oleh penguasaan materi, tetapi juga kemampuan membangun hubungan dengan audiens.
“Audiens akan lebih terbuka ketika merasa familiar dan nyaman dengan pembicara. Karena itu, prinsip KAP penting diterapkan dalam setiap sesi training,” ujar Imam Maulana.
Kemampuan komunikasi juga membantu pemuda menyampaikan pengetahuan dengan cara yang lebih mudah dipahami, membangun dialog, serta menciptakan suasana belajar yang mendorong audiens untuk terlibat.
Peserta kemudian mendapatkan materi GEN-A 101 untuk memahami organisasi, nilai-nilai yang dibangun, serta peran anggota dalam mendukung visi GEN-A. Materi ini menjadi bagian dari proses kaderisasi agar peserta tidak hanya mengenal organisasi, tetapi memahami ruang kontribusi yang dapat mereka ambil di dalamnya.
Mina Shafira, selaku pemateri, menegaskan bahwa GEN-A dibangun sebagai ruang tumbuh bagi generasi muda Aceh.
“GEN-A hadir bukan sekadar sebagai pelaksana kegiatan, tetapi sebagai katalisator pembangunan generasi muda Aceh yang berintegritas, berkarakter, berdaya, dan peduli terhadap sosial serta lingkungan. Karena itu, setiap program GEN-A diarahkan untuk menghadirkan solusi berbasis riset, memberdayakan masyarakat, membangun kapasitas generasi muda, dan menghasilkan dampak yang berkelanjutan bagi Aceh,” ujar Mina.
Dari Ide Menjadi Aksi
Kemampuan berkomunikasi perlu dilengkapi dengan kemampuan mengubah gagasan menjadi aksi. Melalui materi Basic Project Management, peserta diperkenalkan pada dasar-dasar pengelolaan proyek, mulai dari mengembangkan ide, menentukan tujuan, hingga menyusun rancangan proyek menggunakan Project Model Canvas.
Kemampuan ini membantu pemuda tidak berhenti pada menghasilkan ide, tetapi mampu merencanakan, membagi peran, mengelola sumber daya, dan memastikan sebuah kegiatan berjalan sesuai tujuan.
Farah Novilianti Irawan mengatakan kreativitas perlu dibarengi kemampuan perencanaan agar sebuah gagasan dapat diwujudkan.
“Ide kreatif perlu diterjemahkan menjadi rancangan yang jelas agar dapat dilaksanakan dan mencapai tujuan. Karena itu, Project Model Canvas membantu peserta mengubah ide menjadi sebuah proyek yang lebih terarah,” ujar Farah.
Penguasaan keterampilan tersebut juga sejalan dengan kerangka IPP yang menempatkan pendidikan dan pelatihan, serta partisipasi dan kepemimpinan, sebagai bagian dari pembangunan pemuda. Satu Data Kemenpora
Lebih dari 80 Persen Peserta Mengalami Peningkatan Pengetahuan
Pembelajaran selama training tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi diarahkan pada pemahaman penerapan keterampilan komunikasi, edukasi, organisasi, dan project management dalam aktivitas GEN-A.
Berdasarkan evaluasi pre-test dan post-test, lebih dari 80 persen peserta mengalami peningkatan pengetahuan setelah mengikuti tiga modul. Hasil tersebut menjadi indikator awal bahwa pembekalan yang diberikan relevan dengan kebutuhan calon anggota dalam memasuki proses kaderisasi GEN-A.
Bagi GEN-A, kaderisasi merupakan proses menyiapkan pemuda agar tidak hanya aktif sebagai peserta kegiatan, tetapi mampu berkomunikasi, mengajar, berkolaborasi, mengorganisasi, dan mengelola proyek.
Training Calon Anggota Muda menjadi langkah awal untuk membangun kapasitas tersebut. Melalui proses kaderisasi yang terarah, GEN-A terus membuka ruang bagi generasi muda Aceh untuk tumbuh sebagai penggerak dan pencipta solusi yang mampu menerjemahkan gagasan menjadi aksi dan memberikan kontribusi bagi pendidikan serta masyarakat.(min)













Tidak ada Respon