
Surakyat.com | Banda Aceh – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Aceh resmi mengambil alih pelaksanaan kualifikasi cabang olahraga (cabor) bola voli menuju Pekan Olahraga Aceh (PORA) XV Aceh Jaya. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan agenda Pra PORA bola voli tetap terlaksana setelah sebelumnya mengalami penundaan akibat persoalan internal di tubuh Pengprov Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) Aceh.
Kualifikasi atau Pra PORA bola voli dijadwalkan berlangsung pada 7-11 September 2026, di Hall Utama Jantho Sport City (JSC), Kota Jantho, Kabupaten Aceh Besar.
Untuk menyukseskan agenda tersebut, KONI Aceh membentuk kepanitiaan yang melibatkan sejumlah pegiat bola voli di Banda Aceh dan sekitarnya. Mereka terdiri atas unsur pemilik klub, pelatih, pengelola turnamen hingga wasit.
Pengambilalihan ini dinilai penting agar para atlet bola voli di Aceh tetap memiliki kesempatan mengikuti tahapan kualifikasi menuju PORA XV Aceh Jaya. Sebelumnya, pelaksanaan Pra PORA telah beberapa kali dijadwalkan, namun belum terlaksana akibat berbagai persoalan organisasi.
Ketua Pengarah sekaligus Ketua Harian KONI Aceh, Kennedi Husein mengatakan, keputusan mengambil alih pelaksanaan Pra PORA semata-mata untuk menyelamatkan keberlangsungan cabor bola voli sekaligus memberikan kepastian kepada atlet.
“Kita mengambil alih ini semata-mata untuk menyelamatkan cabor sekaligus atlet bola voli di Aceh, sehingga cita-cita mereka untuk dapat tampil di ajang Pra PORA dan PORA Aceh Jaya atas nama daerah mereka bisa terwujud,” ujar Kennedi.
Ia menyebutkan, persoalan organisasi di tingkat Pengprov PBVSI Aceh sebelumnya berdampak terhadap sejumlah kepengurusan Pengkab dan Pengkot PBVSI.
Beberapa daerah bahkan telah melaksanakan musyawarah kabupaten, tetapi kepengurusan hasil musyawarah belum memperoleh Surat Keputusan (SK). Kondisi tersebut membuat sejumlah kepengurusan daerah yang telah habis masa baktinya tidak dapat menjalankan aktivitas secara optimal.
Dampaknya turut dirasakan pembinaan atlet dan agenda kompetisi bola voli di sejumlah daerah. Bahkan, sejumlah atlet disebut memilih hengkang ke daerah lain dengan harapan tetap dapat mengikuti Pra PORA maupun PORA. KONI Aceh sebelumnya telah melakukan komunikasi dan pertemuan dengan Pengprov PBVSI Aceh untuk mencari solusi atas persoalan tersebut. Namun, karena agenda Pra PORA belum juga terlaksana, KONI akhirnya mengambil langkah untuk memastikan proses kualifikasi tetap berjalan.
Wakil Ketua Panitia Pengarah, H Musa Bintang mengatakan, kepanitiaan Pra PORA bola voli saat ini telah terbentuk. Panitia juga telah melakukan peninjauan langsung terhadap venue yang akan digunakan. “Panitia telah melakukan tinjauan lapangan dan dipastikan fasilitas lapangan masih sangat layak,” ujarnya.
“Lapangan itu sendiri dibangun pada tahun 2018, saat PORA di Kota Jantho, Aceh Besar,” kata Musa, Senin (10/8/2026) malam.
Menurutnya, Hall Utama JSC Jantho dinilai memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pertandingan bola voli. Selain menyiapkan venue, panitia juga terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan pelaksanaan berjalan aman dan lancar.
Panitia Pengarah juga telah melakukan audiensi dengan Bupati Aceh Besar, Muharram Idris, Sekda Aceh Besar, Bahrul Jamil, dan Kapolres Aceh Besar, AKBP Khairul Ichsan SIK. Ketiga unsur pimpinan daerah tersebut, kata Musa, menyambut baik rencana pelaksanaan Pra PORA bola voli di Kota Jantho.
Kegiatan tersebut tidak hanya diharapkan menjadi ajang kompetisi bagi atlet, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap masyarakat dan pelaku usaha lokal.
Kehadiran peserta, ofisial dan pendukung pertandingan diperkirakan dapat ikut menggerakkan sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di sekitar lokasi kegiatan.
20 Kabupaten/Kota Siap Ikut
Musa Bintang mengatakan, panitia telah berkoordinasi dengan jajaran KONI kabupaten/kota se-Aceh untuk memfasilitasi keikutsertaan atlet pada Pra PORA. Peserta yang diperbolehkan mengikuti kualifikasi merupakan atlet yang memperoleh rekomendasi dari KONI masing-masing daerah.
Ketentuan tersebut diperlukan karena berkaitan dengan regulasi pembiayaan atlet dan ofisial yang dikirim oleh pemerintah daerah. “Saat ini, sudah 20 kabupaten/kota di Aceh yang telah menyatakan ikut serta. Khusus Aceh Jaya sebagai tuan rumah akan mendapat wildcard,” ujar Musa.
Dengan kepastian jadwal tersebut, panitia berharap seluruh kabupaten/kota yang berminat dapat segera menyelesaikan administrasi dan persiapan tim masing-masing.
Musa juga menegaskan, kepanitiaan yang dibentuk KONI Aceh saat ini memiliki tugas khusus untuk mengantarkan cabor bola voli hingga pelaksanaan Pra PORA dan memastikan proses kualifikasi menuju PORA XV Aceh Jaya berjalan.
Setelah Pra PORA selesai dan daerah yang berhak tampil pada PORA Aceh Jaya telah ditentukan, koordinasi untuk tahapan PORA akan kembali menjadi kewenangan Pengprov PBVSI Aceh. “Panitia yang ada saat ini hanya untuk mengantar cabor voli menuju PORA ke-15 Aceh Jaya,” ujar Musa.
Ia menambahkan, KONI Aceh berharap persoalan organisasi di tubuh PBVSI Aceh dapat segera diselesaikan sehingga pembinaan bola voli di Aceh kembali berjalan normal dan berkelanjutan.vSementara itu, perkembangan organisasi PBVSI Aceh juga menjadi perhatian karena berkaitan dengan pembentukan tim Aceh untuk agenda olahraga nasional berikutnya.
Apabila persoalan internal belum terselesaikan, terdapat kemungkinan KONI Aceh kembali mengambil langkah sesuai kewenangannya dalam mempersiapkan skuad bola voli Aceh menghadapi tahapan Pra-Pekan Olahraga Nasional (PON) hingga PON XXII NTT/NTB 2028, apabila Aceh berhasil lolos.
Untuk saat ini, fokus utama panitia adalah memastikan Pra PORA bola voli berlangsung sesuai jadwal pada 7-11 September 2026. Ajang tersebut diharapkan menjadi momentum menghidupkan kembali kompetisi sekaligus memberi kepastian kepada atlet bola voli Aceh untuk mengejar tiket tampil pada PORA XV di Aceh Jaya.(min)


















Tidak ada Respon