
Oleh: Ns. Sabarina, S.Kep
DULU, ketika mendengar kata diabetes, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada orang dewasa atau lanjut usia. Ada gula darah yang harus diperiksa, makanan yang mulai dibatasi, obat yang diminum rutin, hingga komplikasi yang membuat hidup tidak lagi sama. Diabetes terasa seperti persoalan orang dewasa, sesuatu yang masih jauh dari dunia anak-anak.
Namun, gambaran itu mulai berubah. Data yang menjadi rujukan Kementerian Kesehatan (tahun 2023) menunjukkan bahwa angka diabetes melitus tipe 1 pada anak yang tercatat meningkat dari 0,028 per 100.000 anak pada tahun 2010 menjadi 2 per 100.000 pada tahun 2023, atau lebih dari 70 kali lipat. Angka ini cukup untuk mengingatkan bahwa diabetes bukan lagi persoalan yang baru perlu dibicarakan ketika seseorang sudah dewasa.
Ada satu hal yang penting diluruskan. Tidak semua diabetes pada anak disebabkan oleh makanan manis. Pada diabetes tipe 1, sistem kekebalan tubuh menyerang sel yang menghasilkan insulin. Sementara itu, diabetes tipe 2 dipengaruhi oleh beberapa hal sekaligus, seperti faktor genetik, pola makan, kurang bergerak, berat badan, dan lingkungan tempat anak tumbuh. Di sinilah persoalannya menjadi dekat dengan kehidupan sehari-hari, bukan hanya soal gula, tetapi juga soal kebiasaan.
Coba lihat satu hari yang tampaknya biasa. Pagi dimulai terburu-buru, sarapan seadanya atau bahkan terlewat. Di sekolah jajanan mudah ditemukan, sepulang sekolah minuman manis terasa menyegarkan. Sore yang dahulu identik dengan bermain di luar rumah kini harus berbagi tempat dengan ponsel, gim, dan televisi. Malam datang, lalu makan sambil menatap layar pun terasa biasa.
Tidak ada satu pun dari hal itu yang sendirian langsung menyebabkan diabetes. Segelas minuman manis bukan vonis penyakit. Satu sore di depan layar juga tidak otomatis membuat seorang anak sakit. Masalahnya, kesehatan jarang dibentuk oleh satu kejadian besar. Ia lebih sering terbentuk dari hal-hal kecil yang dilakukan berulang kali sampai akhirnya tidak lagi terasa sebagai pilihan.
Seorang anak yang setiap kali haus terbiasa mendapatkan minuman manis dapat tumbuh dengan anggapan bahwa itulah minuman sehari-hari. Jika camilan di rumah hampir selalu berupa makanan kemasan, buah mungkin hanya hadir sesekali. Jika waktu luang lebih banyak dihabiskan dengan duduk, bergerak perlahan bisa terasa seperti kewajiban.
Karena itu, mungkin pertanyaan kita selama ini perlu diubah. Bukan hanya “Berapa banyak gula yang dimakan anak?” tetapi juga, “Kebiasaan seperti apa yang sedang kita buat terasa normal bagi mereka?”
Anak-anak memang mendengar apa yang kita katakan, tetapi mereka jauh lebih sering belajar dari apa yang mereka lihat. Kita bisa berkata, “Jangan terlalu banyak minum yang manis,” tetapi mereka tahu apa yang selalu tersedia di kulkas. Kita meminta mereka makan buah, tetapi mereka juga melihat apa yang paling sering dibeli. Kita menyuruh mereka bergerak, sementara orang dewasa di sekitarnya pun tanpa sadar menghabiskan berjam-jam di depan layar.
Barangkali rumah memang menjadi sekolah kesehatan pertama bagi seorang anak. Bukan melalui ceramah tentang kalori, gula, atau penyakit, tetapi melalui hal-hal sederhana, apa yang tersedia ketika lapar, apa yang diberikan ketika haus, apa yang masuk ke keranjang belanja, dan bagaimana keluarga menghabiskan waktu bersama.
Perubahannya tidak harus dramatis, air putih dapat lebih sering menjadi minuman utama. Buah dibuat lebih mudah dijangkau, minuman manis tidak harus tersedia setiap hari. Anak diberi ruang untuk bermain dan bergerak, orang tua juga dapat mulai membiasakan diri membaca Informasi Nilai Gizi sebelum sebuah produk masuk ke keranjang belanja.
Kebiasaan terakhir ini tampak sederhana, tetapi penting. Saat berbelanja, kita bisa sangat teliti membandingkan harga, ukuran, merek, bahkan potongan harga. Namun, belum tentu perhatian yang sama diberikan pada tabel kecil di belakang kemasan. Padahal, dari sanalah kita bisa mengetahui apa yang sebenarnya sedang kita bawa pulang dan sajikan kepada keluarga.
Namun, menjaga kesehatan anak bukan berarti menjadikan rumah penuh larangan. Anak tidak perlu merasa bersalah hanya karena sesekali menikmati es krim. Makanan juga tidak harus dibagi secara kaku menjadi makanan “baik” dan “jahat”. Anak dengan berat badan berlebih pun tidak pantas dipermalukan seolah tubuhnya merupakan sebuah kesalahan. Rasa malu bukan pendidikan kesehatan.
Pencegahan juga seharusnya tidak terasa seperti hukuman. Air putih lebih sering dipilih tanpa menganggap satu gelas minuman manis sebagai bencana. Buah tersedia tanpa menjadikan camilan lain sesuatu yang terlarang. Bergerak dibuat menyenangkan, bukan dijadikan hukuman setelah anak dianggap makan terlalu banyak.
Semua itu mungkin terdengar sederhana. Namun, bukankah hampir semua kebiasaan memang bermula dari sesuatu yang kecil?
Tidak ada satu pagi ketika seseorang tiba-tiba memiliki gaya hidup sehat atau tidak sehat. Semuanya terbentuk perlahan, dari apa yang tersedia di meja makan, apa yang dipilih ketika haus, apa yang dibeli saat berbelanja, dan apa yang dilakukan terus-menerus sampai akhirnya dianggap biasa.
Pada titik itulah pembicaraan tentang diabetes pada usia muda tidak lagi hanya berbicara tentang gula. Kita sedang membicarakan sesuatu yang lebih besar: apa yang sedang kita buat normal bagi sebuah generasi.
Jika minuman manis hadir setiap hari, ia akan terasa biasa. Jika duduk berjam-jam menjadi rutinitas, itu pun perlahan terasa normal. Jika makanan selalu dipilih hanya berdasarkan rasa, harga, atau promosi tanpa melihat kandungannya, anak akan tumbuh dengan anggapan bahwa memang begitulah makanan seharusnya dipilih.
Kita tentu tidak dapat menentukan seluruh perjalanan kesehatan seorang anak hanya dari apa yang dimakannya hari ini. Genetik, kondisi tubuh, lingkungan, dan banyak faktor lain ikut berperan. Namun, ada satu hal yang masih berada dalam jangkauan kita, mempertanyakan kebiasaan yang selama ini terlalu mudah dianggap biasa.
Apakah semua yang kita anggap normal hari ini benar-benar layak diwariskan kepada mereka?
Karena, ketika berbicara tentang kesehatan anak, warisan tidak selalu berupa sesuatu yang kelak kita tinggalkan. Kadang-kadang, kita sedang mewariskannya sekarang melalui apa yang tersedia di me moja makan, apa yang tersimpan di kulkas, bagaimana waktu dihabiskan di rumah, dan kebiasaan-kebiasaan kecil yang mereka lihat setiap hari.
Jauh sebelum seorang anak belajar menjaga kesehatannya sendiri, boleh jadi kitalah yang terlebih dahulu mengajarkan kepadanya seperti apa hidup yang dianggap normal.(*)
Penulis adalah Staf Sub-Unit PHI GEN-A



















Tidak ada Respon