
Oleh: Eva Herlina, S.T., M.T.
KECERDASAN buatan atau Artificial Intelligence (AI) berkembang dengan kecepatan yang sulit diabaikan. Dalam beberapa tahun terakhir, AI tidak lagi hanya menjadi bagian dari pembicaraan di kalangan ilmuwan komputer. Ia telah masuk ke ruang-ruang yang sangat dekat dengan kehidupan manusia: pendidikan, kesehatan, keuangan, industri, pekerjaan, bahkan cara manusia mencari dan mengolah informasi.
Di satu sisi, perkembangan ini membawa harapan. Harian Kompas dalam pemberitaannya pada 5 Oktober 2026 mengangkat bagaimana AI mulai membentuk masa depan dunia medis dan keuangan. Teknologi ini dimanfaatkan untuk membantu penemuan obat, analisis risiko keuangan, pengolahan data genomik, hingga mendukung pengambilan keputusan. Dalam bidang-bidang yang membutuhkan pengolahan data dalam jumlah besar dan kecepatan analisis yang tinggi, kemampuan AI memang menawarkan sesuatu yang sulit dilakukan manusia secara manual.
Sebagai dosen, saya sendiri melihat sisi positif tersebut dalam kehidupan akademik. AI dapat membantu mahasiswa dan dosen mencari informasi, merangkum bahan bacaan, mengembangkan gagasan awal, melakukan simulasi, hingga membantu menyelesaikan pekerjaan yang bersifat teknis. Bagi dunia ilmu pengetahuan, kemampuan mengolah informasi dalam jumlah besar tentu merupakan peluang yang sangat besar. Persoalannya kemudian bukan lagi apakah AI akan digunakan atau tidak. Ia sudah hadir. Pertanyaannya adalah bagaimana manusia menggunakannya dan ke mana perkembangan itu diarahkan.
Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika kemampuan AI berkembang bukan sekadar sebagai alat bantu manusia, tetapi mulai digunakan untuk mengembangkan AI berikutnya.
CNN Indonesia pada 30 September 2026 memberitakan peringatan dari 22 peneliti AI, termasuk Yoshua Bengio dan Geoffrey Hinton, mengenai kemungkinan terjadinya apa yang disebut intelligence explosion. Salah satu pemicunya adalah recursive self-improvement, ketika AI digunakan untuk membantu penelitian dan pengembangan AI itu sendiri. Dengan kata lain, AI membantu manusia menciptakan AI yang lebih baik, kemudian AI yang lebih baik itu kembali membantu menciptakan AI yang lebih baik lagi.
Jika perkembangan tersebut berlangsung sangat cepat, kemampuan riset yang selama ini bergantung pada jutaan jam kerja manusia dapat mengalami percepatan yang luar biasa. Laporan tersebut bahkan menggambarkan kemungkinan satu pengembang AI memiliki kemampuan riset yang secara efektif setara dengan jumlah peneliti manusia dalam skala yang sangat besar. Perkembangan teknologi yang biasanya membutuhkan waktu bertahun-tahun berpotensi dipadatkan menjadi jauh lebih singkat.
Di sinilah kekhawatiran mulai muncul. Bukan karena kecerdasan pada dirinya sendiri merupakan sesuatu yang buruk, melainkan karena kecerdasan yang sangat besar akan memiliki dampak yang sangat besar pula ketika tujuan dan arah penggunaannya tidak lagi sepenuhnya dapat dikendalikan manusia.
MetroTV pada 21 April 2026 juga mengingatkan sisi lain dari perkembangan AI. Teknologi ini dapat digunakan untuk menghasilkan deepfake, memanipulasi informasi, melanggar privasi, memperkuat bias, bahkan memengaruhi perilaku masyarakat. Informasi palsu dapat dibuat semakin meyakinkan. Wajah seseorang dapat ditempelkan pada video yang tidak pernah ia lakukan. Suara dapat ditiru. Data pribadi dapat dikumpulkan dan diolah untuk kepentingan tertentu. Dalam skala yang lebih luas, kemampuan tersebut dapat digunakan untuk membentuk opini publik maupun memengaruhi keputusan sosial dan politik.
Menariknya, manfaat dan risikonya justru lahir dari kemampuan teknologi yang sama. AI mampu mengolah data dengan cepat, tetapi kemampuan tersebut dapat digunakan untuk menemukan obat ataupun melakukan manipulasi. AI mampu menghasilkan gambar dan video yang realistis, tetapi kemampuan yang sama dapat digunakan untuk pendidikan kreatif ataupun membuat kebohongan yang sulit dibedakan dari kenyataan. Karena itu, persoalan AI tidak cukup diselesaikan hanya dengan meningkatkan kecanggihan teknologinya.
Ada pertanyaan yang lebih mendasar: AI dikendalikan dengan standar apa?
AI tidak memiliki aqidah. Ia tidak mempunyai kesadaran tentang halal dan haram sebagaimana manusia yang beriman. Ia bekerja berdasarkan data, rancangan, tujuan, algoritma, instruksi, serta batasan yang diberikan kepadanya. Data yang digunakan dalam proses pengembangannya pun berasal dari kehidupan manusia yang sangat beragam, termasuk berbagai pandangan mengenai benar dan salah, baik dan buruk, kebebasan, moralitas, agama, ekonomi, dan politik.
Karena itu, nilai yang tampak dalam sebuah sistem AI tidak muncul dari ruang kosong. Ia sangat dipengaruhi oleh manusia yang merancangnya, data yang digunakan, tujuan yang hendak dicapai, kebijakan keselamatan, kepentingan ekonomi, hukum yang berlaku, dan lingkungan sosial tempat teknologi tersebut dikembangkan.
Di sinilah pembicaraan tentang AI sebenarnya tidak lagi semata-mata pembicaraan tentang teknologi. Ia bersentuhan dengan pandangan hidup.
Teknologi pada dasarnya adalah alat. Ia dapat menjadi sarana untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam perspektif Islam, AI sebagai produk teknologi dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan kehidupan selama penggunaannya tidak bertentangan dengan syariat. Namun, alat tidak pernah menentukan sendiri untuk apa ia digunakan. Manusia yang menentukan tujuannya, dan manusia pula yang harus mempertanggungjawabkan penggunaannya.
Bayangkan AI seperti sebuah pisau. Pisau dapat digunakan untuk mengupas buah, memotong sayuran, membantu pekerjaan, bahkan digunakan dalam berbagai bidang profesional. Tetapi pisau yang sama juga dapat digunakan untuk melukai. Masalahnya bukan terletak pada keberadaan pisaunya. Manusialah yang menentukan apa yang hendak ia lakukan dengan pisau tersebut.
Begitu pula dengan AI. Kita boleh menggunakannya sebagai alat. Kita boleh menentukan apa yang ingin kita kerjakan dan bagaimana hasil akhirnya dibentuk. Tetapi bagi seorang Muslim, kebebasan itu tidak berdiri tanpa batas. Ada syariat yang membatasi tangan kita.
Karena itu, membuat deepfake seseorang tanpa izin untuk menipu atau merusak kehormatannya tidak menjadi halal hanya karena teknologinya mampu melakukannya. Mengumpulkan dan memanfaatkan data pribadi secara zalim tidak menjadi benar hanya karena sistem AI mampu mengolahnya. Membuat konten yang haram, menyebarkan fitnah, melakukan penipuan, atau memanipulasi manusia juga tidak berubah menjadi boleh hanya karena semuanya dapat dilakukan dengan bantuan teknologi yang semakin canggih.
Di tengah perlombaan negara dan perusahaan teknologi mengembangkan AI, persoalan ini menjadi semakin penting. Ketika ukuran keberhasilan teknologi hanya diletakkan pada seberapa cepat, seberapa pintar, seberapa besar keuntungan, atau seberapa luas pengaruh yang dapat dihasilkan, manusia dapat terjebak pada pertanyaan “apa yang bisa dilakukan?” dan melupakan pertanyaan yang jauh lebih penting: “apa yang boleh dilakukan?”
Islam tidak datang untuk menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Islam justru menempatkan ilmu sebagai sesuatu yang memiliki kedudukan penting. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk pendidikan, kesehatan, penelitian, pekerjaan, pelayanan publik, maupun berbagai kebutuhan manusia lainnya. Namun kecanggihan alat tidak boleh menggeser standar benar dan salah yang telah ditetapkan oleh Allah.
AI boleh membantu manusia berpikir. AI boleh mempercepat pekerjaan manusia. Bahkan AI dapat membantu manusia menemukan berbagai kemungkinan baru yang sebelumnya sulit dijangkau. Tetapi AI tidak boleh menjadi sumber hukum bagi manusia. Mesin boleh semakin cerdas, tetapi manusia tetap membutuhkan standar yang benar dalam menentukan arah penggunaannya.
Maka, yang perlu kita khawatirkan bukan hanya ketika AI menjadi semakin cerdas. Yang jauh lebih penting adalah ketika kecerdasan yang semakin besar itu berjalan dengan standar nilai yang salah. Sebab kecerdasan tanpa arah dapat menjadi kekuatan yang berbahaya.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang masa depan AI bukan sekadar siapa yang memiliki teknologi paling canggih. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah siapa yang menentukan arah teknologi tersebut, untuk kepentingan siapa ia dikembangkan, dan standar apa yang digunakan untuk membatasi penggunaannya.
Kita boleh memegang pisaunya. Kita bolehEva Her menentukan apa yang ingin kita kupas dan bagaimana ingin membentuk hasil akhirnya. Tetapi sebagai seorang Muslim, kita tidak bebas tanpa batas. Ada sesuatu yang membatasi tangan kita: syariat.
Begitu pula dengan AI. Teknologinya boleh semakin canggih. Manusia boleh semakin pintar menggunakannya. Tetapi arah dan batasnya tetap harus tunduk kepada hukum Allah SWT.(*)
Penulis adalah Dosen Teknik Sipil

















Tidak ada Respon