Skrol untuk membaca pos
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250

Kisah Pilu Relawan Saat Konflik Aceh: Mengangkat Sendiri Jasad Adik Ipar Korban Kontak Tembak

NA Riya Ison.
Example 468x60
A-AA+A++

Oleh: NA. Riya Ison

SEBAGAI relawan Tim Siaga sekaligus Juru Bicara Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Aceh era awal hingga pertengahan 2000-an, saya akrab dengan atmosfer mencekam ekses konflik Aceh. Menjalankan aksi kemanusiaan kala itu tidak mudah. Setiap langkah harus diperhitungkan dengan matang, tunduk sepenuhnya pada tujuh prinsip dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional, terutama kesukarelaan, kesamaan, dan netralitas.

Example 300x600

Kondisi sosiopolitik Aceh dipenuhi kabut kecurigaan pekat. Saat itu, hubungan Aceh dengan Pemerintah Pusat sedang berada di titik merah. Kedua pihak bertikai yakni antara pasukan pemerintah dengan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Saling curiga satu sama lain, bahkan dengan saudara sendiri. Kondisi keamanan tak menentu, perang terjadi di seluruh negeri Aceh.  Lembaga kemanusiaan seperti PMI juga tidak luput dari prasangka.

Di bawah bayang-bayang ketakutan, para-relawan dituntut cerdik menavigasi data lapangan. Komunikasi bawah tanah dengan berbagai simpul konflik harus terus dijalin secara rahasia. Langkah taktis ini krusial demi memastikan aksi kemanusiaan dan ambulans  tidak dituduh memihak salah satu kubu. Rompi biru donker berlogo Palang Merah yang melekat di tubuh kami adalah perisai sekaligus beban moral yang amat berat.

Di tanah yang bergolak, kepercayaan menjadi komoditas langka dan mahal. Namun, komitmen netralitas yang dipegang teguh membuat bendera PMI dihormati kedua belah pihak yang bertikai. Namun, relawan juga manusia biasa yang hatinya mudah terbawa duka. Kenyataan pahit inilah yang menghantam saya ketika takdir membawa saya pada sebuah tragedi yang tak pernah terbayangkan: Mengevakuasi Jasad Adik dari Istri saya sendiri alias adik ipar, pasca kontak tembak.

Duka Tertahan Tanpa Reaksi
Sore itu, saya baru saja tiba di Markas PMI Provinsi Aceh yang terletak di depan Stadion Lampineung (sekarang Markas PMI Kota Banda Aceh dan Markas PMI Provinsi Aceh berpindah ke Ajuen). Tak lama dering telepon di markas berbunyi. Seorang kawan sesama relawan mengangkat panggilan tersebut. Dari seberang telepon, masuk laporan penting dari petugas Mapolsek Darussalam.

Informasi awal menyebutkan telah terjadi kontak tembak dalam operasi pemeriksaan (sweeping) di kawasan Siem, Aceh Besar.sebuah mobil sedan merek Timor berwarna hijau dilaporkan terberobdong peluru pascakontak senjata antara TNI versus GAM , menyebabkan empat penumpangnya tertembak.

Kabar selentingan menyebutkan bahwa mereka di dalam mobil produk nasional itu adalah anggota GAM wilayah Aceh Besar. Tanpa membuang waktu, saya bersama tim bersiap menyiapkan kantong jenazah dan ambulans menuju kawasan Gampong Siem.

Namun, sebelum roda ambulans PMI berputar, telepon kembali menjerit. Panggilan kedua masih dari Mapolsek Darussalam, mengubah rencana pertama. Petugas mengabarkan jenazah para korban akan diantar langsung oleh aparat keamanan. Kami diminta menunggu di kamar jenazah Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh.

Waktu Maghrib pun tiba. Selesai shalat, saya bergegas menuju kamar jenazah RSUZA Banda Aceh. Saya tiba lebih awal di ruang pemulasaran yang masih sunyi. Tak lama kemudian, deru mesin mobil jip warna hitam jenis Taft Hiline tiba dan langsung parkir di halaman kamar jenazah rumah sakit itu. Insting saya berbisik, inilah kendaraan pembawa korban kontak  tembak dari Gampong Siem.

Begitu pintu belakang jip dibuka, pandangan saya langsung terpaku pada salah satu korban berpostur tinggi pas berada dekat pintu mobil. Meskipun wajahnya terselimuti noda darah, siluet tubuhnya sangat akrab. Detak jantung saya seakan berhenti total saat melihat ciri fisik spesifik, dimana gigi atas bagian tengah yang agak jarang.

Seketika itu juga bergemuruh hati ini bathin saya. Sosok terbujur bersimbah darah itu adalah Kafrawi, adik ipar saya sendiri (adik dari istri). Di kalangan pergerakan GAM, almarhum disapa Teungku Awi, sebagai Mualem wilayah Aceh Besar.

Sebagai Humas PMI, saya dituntut bersikap dingin dan profesional di hadapan aparat. Namun di sisi lain, saya tidak bisa sesegera mungkin menangisi atau memeluknya. Jasad Kafrawi adalah yang pertama saya turunkan dari bak mobil Taft Hiline. Bersama rekan relawan, saya mengangkat tubuhnya ke atas tempat pemandian kamar jenazah RSUZA.

Di samping jasad Dek Wi, ada tiga jasad rekan seperjuangannya yang juga gugur dalam insiden baku tembak di Gampong Siem tersebut. Mereka adalah orang-orang yang ikut menaruh harapan pada pergerakan ini. Satu orang merupakan warga asal Cot Keueng, Aceh Besar, satu orang warga Sibreh, dan seorang lagi yang identitas asal daerahnya luput dari ingatan saya. Empat nyawa anak manusia, kini terbujur kaku dalam satu ruangan di malam yang dingin membeku itu.

Jarak lokasi parkir mobil Taft Hiline dengan ruangan pemulasaran sebenarnya tidak lebih dari dua puluh meter. Namun malam itu, jarak sedekat itu terasa seperti perjalanan berkilo-kilometer, terasa lama dan langkah kaki sangat berat. Ketegangan psikis kian memuncak sebab di depan mata beberapa aparat Brimob berdiri yang kemungkinan baru saja terlibat kontak tembak dengan adik ipar saya. Pada situasi seminim ini, saya seperti berada di titik nadir, saya memikul beban moral yang luar biasa berat: menjaga prinsip netralitas universal tidak tercederai oleh emosi personal.

Jika saya terbawa histeria sedikit saja, dikuatirkan dapat menciderai netralitas PMI demi kemudahan bagi aksi relawan di lapangan. Saat kondisi saya sedang down, lalu saya menarik napas dalam-dalam, menahan air mata yang sulit terbendung. Saya tetap bertindak tenang sebagai relawan profesional yang seolah tidak mengenal korban.
Saya mengidentifikasi keempat jenazah secara klinis. Semua proses berjalan lancar diiringi gemuruh duka yang tertahan di dada. Rompi PMI yang saya kenakan malam itu tidak boleh terlihat basah oleh air mata di depan moncong senjata. Saya harus terlihat tetap tangguh.

Setelah prosesi serah terima selesai, anggota polisi itu pun pamit untuk melanjutkan tugas patroli mereka. Begitu kendaraan mereka menjauh, beban yang saya pendam tadi, laksana sebongkah batu besar di dada saya langsung terbebas. Tangis yang sejak tadi saya bendung meledak tanpa bisa ditahan lagi. Sambil berderai air mata, saya berbisik ke rekan-rekan relawan, “Korban yang tinggi itu… adalah adik iparku.”

Dengan jemari bergetar, wajah dan tubuh Kafrawi saya bersihkan sendiri dari lumuran darah segar menggunakan kapas yang tersedia. Setiap usapan lembut itu menjadi wujud duka yang mendalam, sebuah penghormatan dan sentuhan terakhir sebagai seorang kakak kepada adiknya yang kini terbujur kaku di hadapanku.

Lalu, saya meminta izin pulang menumpangi ambulans PMI untuk menyampaikan kabar duka ini kepada keluarga di rumah, khususnya kepada ayah mertua saya. Saat pertama kali mendengar kedatangan saya, Ayah sempat mengira bahwa Kafrawi hanya mengalami luka-luka biasa akibat kontak tembak. Namun, setelah saya jelaskan kembali dengan suara tercekat bahwa putranya telah tiada, runtuhlah ketabahannya. Ayah seketika panik, meronta-ronta, dilingkupi badai ketakutan serta kehancuran yang berkecamuk di dalam benaknya.

Malam itu juga, jasad Teungku Awi kami bawa pulang ke rumah. Tetangga dan kerabat dekat mulai ramai berdatangan, memecah kesunyian malam dengan lantunan ayat suci Al-Quran. Melalui musyawarah keluarga, disepakati fardhu kifayah akan dilaksanakan keesokan paginya.

Esok paginya, fokus saya justru terpecah karena harus mengurus administrasi pemulangan Kek Hasyim, kakek dari istri saya yang sedang dirawat di RSUZA Banda Aceh. Keputusan pemulangan mendadak ini terpaksa saya tangani. Badai duka membuat kami khawatir Kek Hasyim yang hampir pulih justru akan luput dari perhatian jika tetap ditinggalkan sendirian di rumah sakit dalam situasi keamanan kota Banda Aceh yang sedang chaos.

Konflik Harus Berakhir
Sebagai relawan lapangan, saya telah kenyang menyaksikan betapa besarnya kerugian akibat konflik bersenjata. Kisah ini ditulis murni sebagai ibrah, sebuah pembelajaran berharga bagi generasi masa depan, dan jauh dari niat untuk mengungkit atau menyalakan kembali api dendam pada pihak mana pun.

Perang pada hakikatnya hanya menyisakan luka yang menganga, air mata yang belum mengering kembali basah, dendam diwariskan, serta kerugian materi maupun jiwa yang menghancurkan sebuah peradaban.

Jelas terbukti, perang tidak hanya menghancurkan mereka yang memegang senjata di garis depan pertempuran, tetapi juga mencabik-cabik hati warga sipil, memutus tali persaudaraan, dan merenggut ketenteraman dari ruang domestik keluarga-keluarga tak berdosa.

Pada akhirnya, perdamaian bukanlah sekadar kesepakatan politik, melainkan fitrah tertinggi dari kemanusiaan. Ia adalah satu-satunya cahaya penuntun yang harus terus kita rawat bersama, agar apinya tak lagi padam oleh badai kebencian antarsesama.

Salam Damai Aceh ku………  []

Penulis adalah Mantan Relawan Merangkap Humas PMI Aceh Masa Konflik Aceh dan Bencana Tsunami

Example 300250
Example 120x600

Pos Terkait

Pos Terkait

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250