
Oleh: Ns. Sarah Ainun, M.Si
SETIAP tahun, bulan kelahiran Rasulullah Saw hadir dengan suasana religius yang khas. Masjid dan majelis dipenuhi lantunan shalawat. Tabligh akbar digelar. Pawai dan berbagai kegiatan keagamaan diselenggarakan. Nama Rasulullah SAW kembali menggema di tengah umat, disertai ungkapan cinta dan kerinduan kepada manusia mulia pembawa risalah Islam.
Semua itu merupakan ekspresi kecintaan umat kepada Rasulullah SAW. Namun, ada satu pertanyaan yang patut direnungkan lebih dalam: setelah rangkaian peringatan itu selesai, apa yang berubah dalam kehidupan umat?
Apakah kecintaan kepada Rasulullah SAW cukup diwujudkan melalui lantunan shalawat, kisah kelahiran, dan kekaguman terhadap akhlak beliau? Ataukah momentum ini justru semestinya mengantarkan umat untuk menelusuri kembali bagaimana Rasulullah SAW berjuang mengubah masyarakat jahiliah hingga Islam menjadi pedoman kehidupan?
Pertanyaan tersebut penting. Sebab mencintai Rasulullah Saw bukan sekadar mengagumi sosok beliau. Cinta semestinya melahirkan ittiba’, yakni kesediaan untuk mengikuti apa yang beliau bawa dan contohkan. Allah SWT berfirman:
“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’”(QS. Ali ‘Imran: 31).
Ayat ini menegaskan bahwa cinta bukan sekadar perasaan yang tersimpan di dalam hati. Ia menuntut konsekuensi berupa ketaatan dan ittiba’ kepada Rasulullah SAW.
Di Aceh, makna kecintaan tersebut memiliki warna yang khas. Sebagai daerah yang dikenal dengan julukan Serambi Mekkah, peringatan Maulid telah melekat dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Memasuki bulan Rabiul Awal hingga beberapa bulan berikutnya, nuansa Maulid terasa di berbagai penjuru Aceh. Masjid, meunasah, dayah, gampong, hingga berbagai lembaga masyarakat menggelar kenduri dan kegiatan keagamaan.
Suasananya pun begitu semarak. Shalawat dan zikir menggema, ceramah agama disampaikan, hidangan disiapkan secara gotong royong, sementara masyarakat berkumpul, saling mengundang, dan berbagi makanan. Di sejumlah tempat, rangkaian kegiatan juga diisi dengan tabligh akbar, pembacaan barzanji atau sirah Nabi, santunan, serta berbagai kegiatan keislaman lainnya.
Tradisi tersebut menunjukkan bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW memiliki tempat yang kuat dalam kehidupan masyarakat Aceh. Maulid bukan sekadar agenda seremonial sehari, melainkan menjadi ruang berkumpulnya masyarakat, mempererat silaturahmi, menghidupkan suasana keislaman, sekaligus mengingat kembali perjalanan hidup Rasulullah SAW.
Namun, justru karena kecintaan itu begitu kuat, ada hal yang lebih penting untuk direnungkan: apakah semarak peringatan tersebut telah berbanding lurus dengan semangat meneladani perjuangan Rasulullah SAW?
Sebab, semakin sering kisah Rasulullah Saw diceritakan dan semakin meriah peringatannya, semestinya semakin dalam pula pemahaman umat terhadap risalah yang beliau bawa dan metode yang beliau tempuh dalam mengubah masyarakat. Jangan sampai kemeriahan hanya berhenti pada seremoni, sementara pesan perubahan yang dibawa Rasulullah SAW justru belum menemukan tempat yang cukup dalam kehidupan umat.
Kemeriahan Maulid tentu dapat menjadi ekspresi syukur dan kecintaan kepada Rasulullah Saw. Namun, esensinya tidak seharusnya berhenti pada meriahnya kenduri, panjangnya rangkaian acara, atau banyaknya shalawat yang dilantunkan. Rasulullah SAW tidak hanya datang untuk dikenang, tetapi juga untuk diikuti dan diteladani.
Di sinilah momentum Maulid di Aceh semestinya menemukan makna yang lebih mendalam. Semakin meriah kita mengenang Rasulullah SAW, semestinya semakin kuat pula tekad untuk mengikuti beliau—bukan hanya dalam akhlak pribadi, tetapi juga dalam memahami risalah Islam dan meneladani perjuangan beliau dalam membangun kehidupan berdasarkan Islam.
Maulid Jangan Berhenti pada Seremonial
Tidak ada yang salah dengan membaca shalawat, mendengarkan sirah, atau mengadakan tabligh akbar. Persoalannya muncul ketika kecintaan kepada Rasulullah Saw berhenti pada ekspresi emosional, sementara pesan besar risalah yang beliau bawa tidak menjadi bahan introspeksi terhadap kehidupan umat hari ini.
Kita sering berbicara tentang akhlak Rasulullah SAW: kejujuran beliau, kasih sayang beliau, kesabaran beliau, kelembutan beliau, keberanian beliau, dan kepedulian beliau terhadap umat. Semua itu benar dan penting.
Tetapi Rasulullah SAW bukan hanya datang untuk mengajarkan manusia menjadi pribadi baik dalam sistem kehidupan yang buruk. Beliau membawa risalah Islam untuk mengubah manusia dari penghambaan kepada sesama makhluk menuju penghambaan hanya kepada Allah SWT.
Makkah sebelum Islam bukan sekadar masyarakat yang memiliki masalah moral individual. Ia adalah masyarakat yang memiliki tatanan kehidupan yang dibangun di atas keyakinan, aturan, tradisi, dan kekuasaan yang bertentangan dengan tauhid.
Karena itu, dakwah Rasulullah Saw tidak berhenti pada seruan, “Jadilah orang baik.”
Beliau menyeru manusia kepada tauhid. Beliau mengguncang keyakinan jahiliah. Beliau membongkar penyembahan terhadap berhala. Beliau mengubah cara pandang manusia terhadap kehidupan. Dan pada akhirnya, Islam hadir sebagai aturan yang mengatur kehidupan masyarakat dan negara.
Di sinilah makna Maulid semestinya diperluas: bukan hanya mengenang kelahiran Rasulullah Saw, tetapi membaca kembali perjuangan beliau secara utuh.
Ketika Jahiliah Berganti Wajah
Sebagian orang mungkin menganggap istilah jahiliah hanya relevan untuk masyarakat Arab sebelum kedatangan Islam. Padahal, jahiliah pada hakikatnya bukan sekadar persoalan zaman. Ia berkaitan dengan cara manusia menempatkan dirinya terhadap Allah SWT.
Ketika manusia menjadikan hawa nafsu sebagai penentu halal dan haram, ketika kepentingan materi menjadi orientasi utama kehidupan, ketika aturan Allah SWT disingkirkan dari pengaturan masyarakat, maka persoalan yang dihadapi bukan sekadar persoalan akhlak individual. Hari ini, bentuk jahiliah tentu berbeda dengan masa lalu.
Tidak ada lagi patung Latta dan Uzza yang berdiri seperti di Makkah dahulu. Namun manusia tetap dapat menjadikan selain Allah sebagai sumber aturan dan orientasi kehidupan.
Dunia menawarkan ukuran kesuksesan melalui kekayaan, jabatan, popularitas, dan kekuasaan. Kapitalisme menjadikan kepemilikan dan keuntungan sebagai unsur penting dalam menggerakkan kehidupan ekonomi.
Liberalisme mendorong kebebasan individu dalam berbagai aspek kehidupan. Sementara sekularisme memisahkan agama dari pengaturan kehidupan publik.
Dalam perspektif Islam, persoalannya bukan semata-mata siapa yang memegang kekuasaan, melainkan aturan apa yang menjadi dasar dalam mengatur kehidupan. Sebab tauhid tidak berhenti pada pengakuan bahwa Allah adalah Tuhan. Tauhid juga menuntut agar manusia tunduk kepada hukum dan aturan-Nya. Allah SWT berfirman:
“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.”
(QS. Yusuf: 40)
Maka pertanyaan penting pada momentum Maulid bukan hanya, “Apakah kita mencintai Rasulullah SAW?” Tetapi juga: “Apakah kehidupan kita benar-benar mengikuti risalah yang beliau bawa?”
Umat Menginginkan Perubahan, Tetapi ke Mana Arah Perubahannya?
Menariknya, keresahan terhadap kondisi umat sebenarnya bukan sesuatu yang sulit ditemukan. Masyarakat menyaksikan kemiskinan. Ketimpangan ekonomi. Korupsi. Krisis moral. Kerusakan keluarga. Komersialisasi pendidikan dan kesehatan. Eksploitasi sumber daya alam. Berbagai persoalan sosial yang terus berulang. Tidak sedikit umat Islam yang menginginkan perubahan.
Ada yang bergerak melalui politik elektoral. Ada yang membangun lembaga pendidikan. Ada yang bergerak melalui kegiatan sosial. Ada yang mengembangkan ekonomi umat. Ada pula yang melakukan advokasi terhadap berbagai persoalan masyarakat. Semua menunjukkan bahwa keinginan untuk berubah itu ada.
Namun persoalannya adalah: perubahan menuju apa? Dan yang tidak kalah penting: dengan metode apa? Sebab perubahan tidak cukup hanya mengganti orang, mengganti kebijakan, atau mengganti pemimpin. Jika fondasi sistem yang digunakan tetap sama, berbagai persoalan mendasar dapat kembali muncul dalam bentuk yang berbeda.
Di sinilah sirah Rasulullah SAW semestinya dipelajari bukan hanya sebagai sejarah, tetapi sebagai sumber pelajaran tentang bagaimana beliau membangun perubahan. Rasulullah Saw tidak mengawali perjuangan dengan merebut kekuasaan secara langsung. Beliau memulai dengan membangun manusia melalui dakwah yang menanamkan akidah dan membentuk kepribadian Islam.
Dengan kata lain, perubahan dimulai dari perubahan pemikiran dan keyakinan manusia.
Mengapa Metode Rasulullah SAW Penting Dikaji? Rasulullah Saw adalah teladan terbaik dalam menjalankan risalah Islam.
Karena itu, ketika umat ingin melakukan perubahan, metode perjuangan beliau tidak semestinya diabaikan. Dalam kerangka pemikiran Islam, perjalanan dakwah Rasulullah SAW di Makkah dapat dipahami melalui tiga tahapan utama.
Pertama, tatsqif, yakni pembinaan intensif terhadap individu-individu dengan pemikiran dan kepribadian Islam.
Pada tahap ini Rasulullah SAW membangun fondasi akidah. Para sahabat dibentuk menjadi manusia yang memiliki keyakinan kokoh, memahami Islam, dan siap mengemban risalah. Perubahan tidak dimulai dari gedung pemerintahan. Perubahan dimulai dari manusia.
Kedua, tafa’ul ma’al ummah, yakni berinteraksi dengan umat untuk menyampaikan pemikiran Islam, mengoreksi pemikiran yang keliru, dan membangun kesadaran masyarakat terhadap Islam sebagai solusi kehidupan. Dakwah kemudian tidak hanya berlangsung secara personal, tetapi berinteraksi dengan masyarakat secara luas.
Ketiga, istilamul hukmi, yaitu penerimaan kekuasaan untuk menerapkan Islam secara menyeluruh.
Dalam sejarah dakwah Rasulullah Saw, fase ini berlangsung setelah adanya penerimaan dan dukungan terhadap kepemimpinan beliau, yang kemudian menjadi jalan bagi tegaknya masyarakat dan pemerintahan Islam di Madinah.
Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa perubahan yang dibawa Rasulullah SAW memiliki proses. Ada pembinaan. Ada interaksi dengan masyarakat. Ada perjuangan pemikiran. Dan ada tahap ketika kekuasaan digunakan untuk menerapkan aturan Islam.
Karena itu, jika umat ingin meneladani Rasulullah Saw, pembahasan tentang Maulid semestinya tidak berhenti pada bagaimana beliau tersenyum, bagaimana beliau memperlakukan sahabat, atau bagaimana beliau menyayangi anak-anak. Semua itu penting.
Tetapi kita juga perlu bertanya: bagaimana Rasulullah SAW mengubah masyarakat Bagaimana beliau menghadapi sistem jahiliah? Bagaimana beliau membangun umat? Bagaimana Islam kemudian menjadi aturan kehidupan?
Cinta yang Memiliki Konsekuensi
Cinta kepada Rasulullah SAW seharusnya tidak menjadi cinta yang hanya hidup selama acara Maulid berlangsung. Ia harus menjadi energi perubahan.
Ketika Rasulullah Saw menyerukan tauhid, beliau tidak hanya meminta manusia mengucapkan la ilaha illallah. Beliau mengajarkan konsekuensi dari kalimat tersebut: menolak segala bentuk penghambaan kepada selain Allah dan tunduk kepada aturan-Nya.
Karena itu, cinta kepada Rasulullah Saw memiliki konsekuensi ideologis: mengikatkan diri kepada risalah yang beliau bawa. Ittiba’ tidak cukup dimaknai sebagai meniru pakaian, kebiasaan, atau perilaku personal beliau—meskipun meneladan akhlak Rasulullah Saw merupakan bagian penting dari kehidupan seorang Muslim.
Ittiba’ harus dipahami secara lebih utuh: mengikuti petunjuk Rasulullah Saw dalam seluruh aspek kehidupan yang memang beliau syariatkan dan contohkan. Allah SWT menegaskan:
“Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.” (QS. Ali ‘Imran: 31).
Maka Maulid seharusnya menjadi momentum untuk mengoreksi kembali makna cinta. Cinta bukan sekadar menyebut nama beliau. Cinta adalah mengikuti risalah beliau.
Dari Peringatan Menuju Kebangkitan
Jika Maulid hanya menghasilkan tangisan sesaat, lalu kehidupan kembali berjalan seperti biasa, maka ada pesan besar Rasulullah SAW yang belum selesai kita gali. Maulid seharusnya menjadi ruang muhasabah umat. Mengapa umat Islam yang jumlahnya besar masih menghadapi kemiskinan, ketimpangan, konflik, kerusakan moral, dan berbagai persoalan kehidupan?
Mengapa Islam sering ditempatkan hanya sebagai urusan ibadah individual, sementara pengaturan ekonomi, politik, pendidikan, kesehatan, hukum, dan kehidupan sosial diserahkan kepada paradigma yang tidak bersumber dari syariat Islam?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini penting karena perubahan sistem tidak lahir dari kekaguman terhadap sejarah. Ia lahir dari kesadaran terhadap realitas dan pemahaman terhadap solusi.
Dalam perspektif Islam, solusi tersebut bukan sekadar tambal sulam kebijakan, melainkan penerapan syariat Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Dan dalam kerangka politik Islam, penerapan syariat secara menyeluruh membutuhkan institusi kepemimpinan yang menjalankannya, yakni negara yang berlandaskan pada sistem Islam.
Karena itu, perjuangan menuju perubahan tersebut tidak cukup dilakukan dengan mengganti individu di dalam sistem yang sama. Ia membutuhkan perubahan mendasar pada pemikiran, kesadaran umat, dan sistem kehidupan. Rasulullah SAW Telah Menunjukkan Jalannya
Di sinilah Maulid seharusnya menemukan kembali ruhnya. Bukan sekadar bertanya, “Bagaimana kita mencintai Rasulullah SAW?” Tetapi juga bertanya, “Apa yang beliau perjuangkan dan bagaimana beliau memperjuangkannya?”
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa perubahan dimulai dengan akidah. Kemudian pemikiran Islam ditanamkan. Masyarakat diajak memahami Islam. Kesadaran umat dibangun. Dan ketika kekuasaan berada di tangan Islam, syariat diterapkan untuk mengatur kehidupan.
Metode itu bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah bagian dari sirah yang perlu dipelajari oleh umat ketika membicarakan perubahan. Sebab Islam tidak datang untuk menjadi ornamen kehidupan. Islam datang membawa risalah yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, dirinya sendiri, dan sesamanya. Allah SWT berfirman:
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107).
Rahmat Islam bukan hanya terasa dalam ritual peribadatan. Rahmat itu juga harus tercermin dalam kehidupan manusia: dalam keadilan, penjagaan jiwa, kehormatan manusia, pendidikan, ekonomi, keamanan, dan pengaturan masyarakat.
Maka, momentum Maulid semestinya tidak berhenti ketika lampu panggung dimatikan, shalawat selesai dilantunkan, dan jamaah meninggalkan majelis. Justru setelah itu, pertanyaan yang lebih besar harus dimulai: Sudahkah kita benar-benar mengikuti Rasulullah SAW?
Jika cinta kepada beliau hanya menghasilkan perasaan haru, tetapi tidak melahirkan kesediaan mengikuti risalahnya, maka cinta itu belum menemukan konsekuensinya. Sebaliknya, jika Maulid mampu menghidupkan kembali kesadaran umat tentang risalah Islam, membangkitkan pemikiran, memperkuat akidah, dan mendorong umat untuk meneladani perjuangan Rasulullah Saw dalam mengubah kehidupan berdasarkan Islam, maka Maulid tidak lagi sekadar menjadi peringatan tahunan.
Ia menjadi momentum kebangkitan kesadaran umat.
Sebab Rasulullah SAW tidak hanya meninggalkan kenangan untuk dikenang. Beliau meninggalkan risalah untuk diikuti, perjuangan untuk dipelajari, dan teladan untuk diwujudkan dalam kehidupan.
Maka, memperingati Maulid bukan hanya tentang mengenang hari kelahiran Sang Nabi Muhammad SAW. Lebih jauh dari itu, Maulid semestinya menjadi momentum untuk kembali menemukan jalan perjuangan beliau—agar kecintaan tidak berhenti di lisan, tetapi menjelma menjadi ittiba’; agar ittiba’ tidak berhenti pada akhlak individual, tetapi menghadirkan kesadaran terhadap risalah; dan agar risalah tidak berhenti sebagai wacana, tetapi menjadi pedoman kehidupan.(*)

















Tidak ada Respon